Penderita Asma Kerap Ketergantungan Inhaler, Dokter Ungkap Bahayanya

Ilustrasi asma.
Sumber :
  • Freepik/freepik

VIVA Lifestyle – Sudah menjadi hal yang umum diketahui bahwa pasien asma sangat bergantung pada inhaler pelega SABA (short acting beta agonist). Namun kini, dokter menyebut bahwa inhaler tersebut justru berisiko dan berdampak buruk pada pasien asma dengan tingkat kesakitan dan kematian yang mengintai.

"Banyak pasien asma di Indonesia yang masih mengalami serangan, yaitu sebanyak 57,5 persen dari data Riskesdas 2018," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Eva Susanti, S.Kp, M.Kes, dalam webinar, Rabu 10 Mei 2023. Scroll untuk info selengkapnya.

Laporan strategi GINA (Global Initiative for Asthma) 2019-2022 menunjukkan bahwa penggunaan inhaler pelega SABA secara rutin, bahkan hanya dalam 1-2 minggu, justru kurang efektif. Bahkan, inhaler ini menyebabkan lebih banyak peradangan pada saluran napas, serta dapat mendorong kebiasaan buruk penggunaan secara berlebihan. 

"Pasien asma di Indonesia cenderung menggunakan inhaler pelega SABA dibandingkan dengan inhaler dengan kandungan ICS (Anti-inflamasi melalui inhaler) karena SABA dirasakan dapat memberi efek lega secara cepat, dan telah menjadi lini pertama terapi asma sejak lama," ujar Dokter Spesialis Paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Dr. H. Mohamad Yanuar Fajar, Sp.P, FISR, FAPSR, MARS, di kesempatan yang sama.

Ketika pasien asma terlalu sering menggunakan atau terlalu bergantung pada inhaler pelega SABA, kata dokter Yanuar, maka mereka berisiko tinggi mengalami serangan asma, dirawat di rumah sakit, dan dalam beberapa kasus, kematian.

"Sebenarnya penggunaan inhaler pelega SABA secara teratur, dapat mengurangi efek atau manfaatnya, sehingga untuk mendapatkan efek yang sama, diperlukan lebih banyak inhalasi atau obat. Terlebih lagi penggunaan SABA secara berlebih dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan asma, rawat inap karena asma, bahkan kematian," bebernya.

Para ahli asma percaya bahwa "paradoks asma" merupakan faktor penting dalam tantangan penanganan asma, di mana ketergantungan yang berlebihan terhadap inhaler pelega SABA telah dianggap oleh pasien sebagai pengendali penyakit, terutama karena inhaler pelega SABA telah menjadi lini pertama terapi asma selama lebih dari 50 tahun.

"Maka, pengobatan asma dengan hanya menggunakan inhaler pelega SABA tidak lagi direkomendasikan, karena SABA tidak mengatasi peradangan yang mendasari asma," tambahnya.

Beberapa data menunjukkan kondisi pasien asma di Indonesia masih membutuhkan pengobatan yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Studi SABINA (SABA Use in Asthma) menunjukkan bahwa 37 persen pasien asma di Indonesia diresepkan inhaler pelega jenis short-acting beta-agonist (SABA) sebanyak ≥3 kanister per tahun, di mana jumlah resep tersebut justru dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan yang parah.

Ilustrasi penderita asma.

Photo :

"Sebagai gantinya, pasien asma harus mendapat pengobatan yang mengandung ICS (antiradang/anti inflamasi), contohnya kombinasi ICS-Formoterol, untuk mengurangi risiko serangan asma. Pasien asma dianjurkan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter untuk memastikan kondisi asma terkontrol dan mendapatkan tindakan yang tepat, bukan hanya mencari pengobatan instan saat serangan asma muncul," tambahnya.

Studi Global Burden of Disease (GBD) pada tahun 2019 menunjukkan bahwa diperkirakan terdapat 262 juta orang yang terkena asma di seluruh dunia, dengan faktor penting di mana inhaler pelega dianggap oleh pasien sebagai pengendali penyakit mereka, tetapi karena kurangnya pengobatan terhadap kondisi peradangan yang mendasarinya, hal tersebut sebenarnya menempatkan pasien pada risiko yang lebih besar terhadap serangan asma.

Untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien asma di Indonesia, kampanye 'Stop Ketergantungan' pun digagas. Kampanye ini bertujuan untuk mengukur risiko ketergantungan yang berlebihan terhadap SABA dan untuk menjembatani diskusi antara tenaga kesehatan profesional dan pasien asma untuk pengobatan asma yang optimal.

Untuk menumbuhkan kesadaran pasien asma akan kondisi mereka, kampanye 'Stop Ketergantungan' menyediakan media digital berbasis bukti yaitu tes ketergantungan pelega, yang dapat dibuka di www.stopketergantungan.id untuk menilai tingkat ketergantungan pasien terhadap inhaler pelega SABA. Tes ini diadaptasi dari Kuesioner Risiko SABA yang telah divalidasi.

Dengan mengikuti tes ini, pasien asma akan memahami risiko dan kecenderungan ketergantungan yang berlebihan terhadap SABA, sehingga dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional untuk menentukan langkah selanjutnya dalam pengobatan dan penanganan asma yang mereka butuhkan.