Media Sosial Jadi Sarang Cyber Bullying pada Anak

Ilustrasi media sosial
Sumber :
  • Pixabay/Geralt
VIVA.co.id
- Teknologi yang berkembang pesat belakangan ini membuat tindakan kekerasan di dunia maya (
cyber bullying
) kerap terjadi. Yang paling mengkhawatirkan, ternyata
cyber bullying
lebih banyak terjadi pada anak-anak melalui akses media sosial.


Di Indonesia memang belum ada regulasi yang mengatur tentang penggunaan media sosial pada anak-anak di bawah umur. Karena itu, orangtua perlu berpegang pada aturan jika belum berusia 13 tahun sebaiknya anak tidak menggunakan media sosial.


Menurut dr. Catharine Mayung Sambo, Sp.A dari Ikatan Dokter Anak Indonesia,
cyber bullying
tidak berupa kekerasan fisik namun muncul dalam bentuk ejekan dan
non-punting
. Caranya pun bisa berupa serangan langsung yakni dengan mengejek dengan kata-kata kasar dan
posted publick attack
misalnya mengunggah foto tanpa sepengetahuan ke media sosial dengan kata-kata merendahkan.


"
Cyber bullying
juga bisa kasus anak dimanfaatkan oleh orang. Misalnya dia disuruh mengantarkan sesuatu dari titik A ke titik B. Karena anak ini merasa kenal, dia percaya saja dan mau. Padahal kita enggak pernah tahu orang menyuruh itu sebenarnya bermaksud apa," ujar dr. Mayung saat temu media di Kemenkes, Rabu, 27 Juli.


Selain itu, ada pula yang bersifat
sexting
di mana anak-anak berkirim pesan berupa rayuan. Ini bisa dikategorikan sebagai hinaan karena mereka tidak tahu siapa yang tengah berkirim pesan dengan mereka.

Dr. Mayung menuturkan, cyber bullying bisa memberikan beragam dampak psikologis pada anak, di antaranya adalah depresi. Selain itu, untuk kasus pemanfaatan, anak juga bisa terkerat kasus kriminal.

"Biasanya orangtua tidak sadar kalau anak kena
cyber bullying
sampai anak itu sudah pada tahap yang berat. Kalau kelihatan anak depresi, ada perubahan perilaku, menilai dirinya sendiri rendah, tidak mau makan, itu adalah pertanda awal anak mengalami
cyber bullying
," kata dr. Mayung.


Karenanya, orangtua harus bisa mengenali tanda-tanda yang terjadi pada anak. Begitu juga dengan guru. Karena mereka adalah orang yang paling banyak menghabiskan waktu dengan anak. Kenali tanda awal depresi pada anak dan ajak mereka bicara."


Peran orangtua itu harus banyak bicara sama anak. Tanpa harus invasi. Karena kalau anak remaja biasanya kemauannya berbeda dengan orangtua," ujar dr. Mayung.


Disamping itu, penting juga bagi orangtua untuk menjalin komunikasi dengan orang-orang yang ada dalam kehidupan anak seperti guru di sekolah atau tempat lesnya.


"Perbanyaklah komunikasi dengan anak. Biasakan untuk terbuka dengan anak, komunikasi dari hati ke hati. Ini bukan masalah ibu bekerja atau tidak," kata dr. Mayung.