Cara Sederhana Deteksi Kanker

doctor
Sumber :
  • Pixabay/Darkostojanovic

VIVA.co.id - Sebagai penyakit ganas, kanker menjadi musuh utama yang harus dihindari. Salah satunya adalah melakukan langkah pencegahan lewat gaya hidup sehat dan bersih.

Menurut Dr. dr. Denni Joko Purwanto, Sp.B(K)Onk, gaya hidup sehat bisa menekan minimal 30-40 persen terjadinya kanker.

Kenyataannya, saat ini menerapkan gaya hidup sehat cukup sulit, apalagi bagi yang tinggal di perkotaan. Paparan asap kendaraan hingga kondisi lingkungan yang buruk. Selain itu, kondisi diperparah dengan rokok dan konsumsi alkohol.

"Yang mengkhawatirkan sekarang adalah masalah rokok dan alkohol. Padahal, itu sudah jelas dibuktikan oleh penelitian bahwa rokok 10 kali lipat menyebabkan kanker. Sedangkan alkohol juga 10 kali lipat menyebabkan kanker. Jika Anda perokok dan peminum, maka risikonya 100 kali lipat," kata dr. Denni saat konferensi pers peringatan “Hari Kanker Kepala Leher” di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat, 29 Juli 2016.

Selain pencegahan, yang sangat penting dalam penanganan kanker adalah deteksi dini. Deteksi kanker sedini mungkin dapat memberikan harapan hidup yang lebih besar pada pasien. Hasil pengobatan pun akan lebih bagus dan biaya yang dikeluarkan akan lebih sedikit.

Namun, sayangnya, kesadaran masyarakat akan gejala awal kanker sangat rendah, sehingga banyak yang datang ke dokter sudah dalam keadaan stadium lanjut.

"Kalau sudah lanjut risiko kematiannya 80 persen," tutur dr. Denni.

Ada dua langkah pencegahan penyakit kanker yang bisa dilakukan. Pertama adalah pencegahan primer seperti menghindari rokok. Kedua, adalah deteksi dini yang bisa dilakukan sendiri dengan cara sederhana seperti gerakan sadari untuk payudara.

"Di dalam rongga mulut seperti langit-langit, kerongkongan, semua diperiksa, kalau ada sesuatu yang tidak jelas langsung tanyakan ke dokter. Sariawan misalnya, itu umumnya disebabkan oleh virus dan sembuh dengan sendirinya. Tapi, kalau dua minggu tidak hilang juga harus segera periksakan ke dokter," kata dr. Denni.

Sayangnya, lanjut dr. Denni, masalah rokok yang menjadi penyebab paling besar kanker masih teregulasi dengan baik di Indonesia. Berbeda dengan negara-negara lain yang penggunaannya sudah diatur dalam undang-undang.