Banyak Anak Lelaki Lahir dengan Gangguan Genital

Ilustrasi bayi
Sumber :
  • Pixabay

VIVA.co.id – Perubahan gaya hidup yang tak sehat ternyata bisa sangat memengaruhi kondisi pertumbuhan janin pada wanita hamil. Bahkan di Inggris, jumlah anak laki-laki di Inggris yang terlahir dengan gangguan genital semakin meningkat.

Dilansir laman Daily Mail, selama beberapa dekade, jumlah sperma laki-laki saat ini bahkan semakin menurun. Tak hanya itu, testis anak laki-laki belakangan bahkan banyak yang tak berkembang secara sempurna sehingga menghambat produksi sperma.

Beberapa ahli menyalahkan bahwa banyaknya ibu hamil yang terpapar bahan kimia terutama yang berasal dari plastik yang banyak digunakan di rumah sebagai wadah tempat makan menjadi biang pemicu jumlah bayi laki-laki lahir dengan kelainan genital.

Bahan kimia dari plastik ini, menghambat pertumbuhan hormon seks pria di dalam rahim, yang dapat menyebabkan cacat pada janin laki-laki.

Para ahli lain mengatakan, masalah ini juga dipengaruhi dengan faktor gaya hidup. Konsumsi lemak yang lebih banyak pada ibu hamil memicu produksi hormon estrogen pada wanita lebih banyak, yang lagi-lagi, akan memengaruhi bagaimana bayi dalam kandungan tumbuh.

Karena hal itu, satu dari 350 bayi laki-laki memiliki kondisi yang dikenal dengan istilah, hipospadia. Ini adalah ketika uretra melalui urine dikeluarkan muncul di suatu tempat pada poros atau bahkan pangkal penis, bukan di ujung. Jika kepala penis berujung mundur, itu bisa menyulitkan anak laki-laki buang air kecil sambil berdiri.

Gangguan lain dari sistem reproduksi laki-laki juga meningkat. Salah satunya, Kriptorkismus adalah malformasi genital paling umum dari semua, ketika salah satu dari kedua testis gagal turun ke dalam skrotum, ini memengaruhi dua hingga empat persen dari bayi laki-laki.

Apa itu hipospadia?

Ini merupakan salah satu keabnormalan pada saluran kemih atau uretra dan penis. Dalam kondisi normal, lubang uretra terletak di ujung penis untuk mengeluarkan urine. Tetapi pada pengidap hipospadia, lubang uretra justru berada di bagian bawah penis.

Hipospadia termasuk kelainan bawaan yang umumnya diderita sejak lahir. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada proses buang air kecil serta ereksi.

Sekitar 1 dari 300 anak laki-laki lahir dengan  hipospadia dan mereka yang terkena dampak ini selalu memiliki penis yang lebih kecil dari rata-rata anak laki-laki.

Tidak diketahui apa penyebab pastinya. Dan Banyak pria yang menderita hal ini, tidak pernah tahu mereka memiliki kondisi ini, dan orangtua mereka tidak pernah mencari bantuan, sehingga dokter sulit untuk melacak penyebabnya.

Profesor Richard Sharpe, seorang spesialis kesuburan laki-laki dari Medical Research Council's University of Edinburgh Centre of Reproductive Health menunjukkan bahwa semua gangguan berasal dari masalah yang timbul pada tahap kunci dalam perkembangan janin laki-laki selama awal kehamilan.

"Dari studi epidemiologi, kita tahu bahwa masing-masing dari gangguan merupakan faktor risiko untuk semua, dan mereka berbagi beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan kehamilan."

Yang paling penting, lanjutnya, ini karena faktor risiko hormonal. Dengan kata lain, ada sesuatu yang terjadi di awal perkembangan janin laki-laki yang mengganggu langkah-langkah kunci yang memungkinkan bayi berkembang menjadi sehat, dan menjadi laki-laki yang subur.

Profesor Neil Skakkebaek, dari University of Copenhagen, juga mengungkapkan pada 2010 bahwa jumlah sperma telah turun sekitar setengah selama 50 tahun terakhir dan lebih banyak pria memproduksi sperma dengan jumlah yang abnormal.

Sejak penemuan itu, pemerhati lingkungan telah menyarankan bahwa hal itu bisa menimbulkan 'pembelokan gender' karena bahan kimia pengganggu endokrin dalam lingkungan yang merupakan penyebab feminisasi terjadi pada  pria.

Namun, beberapa ilmuwan lain percaya bahwa pelakunya kemungkinan terjadi karena perubahan gaya hidup, bukan paparan beberapa bahan kimia lingkungan yang baru.

John Ashby, dari Syngenta Central Toksikologi Laboratory di Macclesfield, mengatakan fokus pada penyebab lingkungan mungkin sangat salah.

"Ada banyak perubahan gaya hidup yang dapat memberikan kontribusi untuk kondisi ini, bisa juga karena banyaknya wanita yang merokok," tambah John Asby dari Syngenta Central Toksikologi Laboratory di Macclesfield.