Ini Penyebab Rendahnya Jumlah Peneliti Perempuan

Ilustrasi Peneliti Wanita
Sumber :
  • Pixabay/jesicajaew

VIVA.co.id – Perempuan yang terjun dalam dunia sains dan berkarier sebagai peneliti bisa dibilang masih sangat rendah. Menurut data dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2015, perbandingan jumlah peneliti perempuan di dunia hanya 30 persen dari total keseluruhan.

Sementara di Indonesia sendiri, jumlah peneliti di Indonesia hanya sekira 31 persen, jauh berbanding dengan laki-laki yang mencapai 69 persen.

Data dari LIPI juga semakin memperjelas hal itu. Menurut data yang dirilis LIPI menunjukkan rasio jumlah peneliti di Indonesia saat ini hanya 90 peneliti berbanding dengan 1 juta penduduk.

Rasio jumlah peneliti ini masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain, di India saja rasio penelitinya sudah mencapai 140 per 1 juta penduduk. Di negara maju seperti Amerika rasionya 5000 peneliti untuk 1 juta penduduk. Data UNESCO menunjukkan kesenjangan gender dalam dunia sains masih cukup tinggi.

Masih ada persepsi yang mengindikasikan bahwa sains bukanlah
dunia yang ramah untuk kaum perempuan. Jumlah ilmuwan perempuan di indonesia memang masih jauh dibandingkan negara-negara lain.

Menanggapi hal ini, CEO dan Managing Director Lipotek Pty Ltd Canberra sekaligus L’Oréal-UNESCO FWIS 2004 International Fellow, Dr Ines Atmosukarto mengatakan bahwa seperti profesi lainnya, menjadi seorang ilmuwan perempuan tentu ada tantangannya sendiri. Salah satu tantangan yang paling sering dihadapi adalah tidak adanya jam kerja tetap.

"Sebagai ilmuwan kita harus stand by ketika penelitian berlangsung. Ini menyebabkan munculnya stereotip bahwa ketika Anda sudah berkeluarga maka karir penelitian Anda harus ditinggalkan ataupun sebaliknya, jika Anda ingin menjadi ilmuwan perempuan, Anda tidak bisa berkeluarga," kata dia sat melakukan bincang-bincang di L'oreal Indonesia, Kamis, 6 September 2016.

Ia juga menambahkan bahwa persepsi dalam masyarakat menunjukkan bahwa dunia penelitian dan keluarga tidak dapat berjalan beriringan juga semakin menambah daftar panjang mengapa tingkat perempuan sebagai ilmuwan sangatlah rendah.

"Memang tidak mudah, namun dengan dukungan penuh dari keluarga serta passion yang menyala, saya beruntung bisa menjalankan keduanya secara beriringan,"  tambah dia.

Sementara itu menurut Dr. Fenny M. Dwivany, Associate Profesor Biologi Molekuler di lTB dan L’Oréal-UNESCO FWIS 2007 international Fellow, jatuh bangun menjadi seorang ilmuwan perempuan di Indonesia biasanya berhubungan dengan pendanaan dan ketersediaan infrastruktur. Namun, menurutnya  seorang ilmuwan itu tidak boleh patah semangat, terus bertanya, terus mencari jalan keluar.

"Sebetulnya banyak cara dengan mengembangkan networking kita sehingga masalah-masalah yang dihadapi bisa diselesaikan. Sains itu butuh ketekunan. Seorang perempuan itu biasanya tekun, maka peran perempuan diperlukan dalam Untuk menyelesaikan sebuah masalah juga perlu berbagai sudut pandang yang berbeda, sehingga peran pria dan wanita perlu diseimbangkan," jelasnya.