Tips Memilih Perawat Lansia yang Tepat

Ilustrasi pasien stroke
Sumber :
  • Pixabay/ TusitaStudio

VIVA.co.id – Salah satu masalah yang sering dialami lansia adalah penyakit Alzheimer atau demensia. Dengan bertambahnya usia seseorang, maka akan menurunkan fungsi kognitif yang berdampak pada menurunnya minat dan aktivitas sosial sehingga meningkatkan biaya perawatan lansia bagi keluarga.

Berdasarkan data dari Alzheimer’s Indonesia (Alzi) ada sekitar 1,2 juta penderita Alzheimer di Indonesia dan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat di tahun 2030.  Tidak semua keluarga para lansia yang paham mengenai penanganan penyakit Alzheimer dan demensia, selain itu faktor kesibukan menjadikan anggota keluarga terkadang tidak memiliki waktu untuk merawat dan mendampingi orang tua yang menderita demensia.

Disinilah kehadiran caregiver atau perawat profesional dibutuhkan. Dalam rilis yang diterima VIVA.co.id, Try  Wibowo, CEO dari Insan Medika,  perusahaan penyedia online platform untuk layanan jasa perawatan di rumah untuk layanan medis dan non-medis, memberikan beberapa tips dalam memilih caregiver bagi keluarga

Bisa beradaptasi dengan cepat

Seorang caregiver harus dapat dengan segera beradaptasi, tidak hanya dengan lansia yang akan dirawatnya. Namun juga dengan anggota keluarga lain, maupun dengan lingkungan di sekitarnya. Mereka diwajibkan untuk segera mengetahui karakter dan hal penting apa saja yang dibutuhkan oleh lansia tersebut.

Lingkungan sekitar rumah tempat merawat lansia juga harus mereka kuasai sehingga caregiver tahu apa langkah pertama yang harus dilakukannya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Memiliki Keterampilan Berkomunikasi

Untuk dapat mengambil hati seorang lansia yang dirawat, caregiver harus memiliki keterampilan komunikasi yang handal. Berusaha untuk menyelami kepribadian lansia dan menyesuaikan bagaimana gaya komunikasi yang tepat dan sesuai. Tidak hanya pintar dalam membawakan diri, namun juga harus bisa menjadi teman berbagi untuk para lansia.

Kerja sama dan Saling Mengisi

Meskipun kaum lansia sudah berumur lanjut, namun mereka juga tidak ingin dianggap sebagai kaum lemah. Mereka hanya membutuhkan orang yang bisa diajak bekerja sama serta mampu memberi motivasi untuk terus membuat hidup menjadi lebih baik.

Dalam hal ini, penting bagi seorang caregiver menjadi pribadi yang terbuka dan bisa memberikan pengaruh positif kepada lansia yang dirawatnya.

Rasa Empati
Kunci keberhasilan saat merawat lansia terletak pada adanya rasa empati yang tinggi. Kesabaran serta keikhlasan sebuah pengabdian diri harus ada di setiap momen merawat lansia. Sebab tingkat sensitivitas yang dimiliki lansia tentu berbeda dengan orang yang berada di masa produktif.

Rasa untuk selalu ingin dimengerti dan dihormati kerap muncul sehingga tidak ada alasan bagi seorang caregiver terlatih untuk mengesampingkan rasa empati mereka.

Memandirikan Lansia

Seorang caregiver yang mendapat training dan pelatihan yang baik, justru tidak dibenarkan memanjakan si lansia atau menuruti semua keinginan lansia yang dirawatnya.

Mereka harus mampu memberikan dorongan secara halus agar lansia tersebut perlahan bisa melakukan segala sesuatunya sendiri dan tidak terus tergantung dengan orang lain, terutama dengan caregiver-nya.