Susu Berlemak atau Rendah Lemak untuk Cegah Osteoporosis?

Susu
Sumber :
  • Pixabay/ condesign

VIVA.co.id – Menjaga kesehatan tulang, sama pentingnya dengan menjaga organ tubuh lainnya. Dan perlu diketahui, ketika mencapai usia 25-30 tahun, tercapailah puncak kepadatan dari tulang manusia.

Namun, sesudah melewati usia 30 tahun, kepadatan tulang akan semakin menurun. Untuk itu disarankan membangun tulang yang kuat sebelum usia 30 tahun. Salah satu caranya mengonsumsi susu berkalsium.

Lalu, manakah yang lebih baik untuk dikonsumsi, susu berlemak atau tak berlemak?

Dr Jezy dari MeetDoctor pun menjelaskan bahwa kalsium terdapat pada susu rendah lemak maupun susu berlemak. Namun susu rendah lemak lebih disarankan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa lemak jenuh dalam susu dapat menghambat penyerapan kalsium dalam usus.

"Disarankan mengkonsumsi jenis susu berkalsium tinggi dengan susu berlemak rendah. Kandungan kalsium tinggi dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang sehingga tidak terjadi pengeroposan, terutama untuk wanita dewasa. Sementara kandungan lemak rendah akan mengurangi risiko obesitas (kegemukan)," terangnya.

Tak hanya minum susu, untuk mencegah terjadinya Osteoporosis atau pengeroposan tulang juga bisa dilakukan pemeriksaan dini.

"Sebelumnya harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk melihat kepadatan tulang dan ada tidaknya patah tulang. Terapi bisa diberikan obat-obatan untuk mencegah pengoroposan tulang lebih lanjut, modifikasi gaya hidup dan apabila telah terjadi patah tulang, tindakan pembedahan mungkin diperlukan," terang dr Jezy lagi.

Deteksi dini melalui pengukuran kepadatan massa tulang (bone mass density) dengan alat yang disebut densitometer juga bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya osteoporosis makin parah.
"Pemeriksaan secara dini ini untuk mengetahui apakah kita sudah terkena osteoporosis atau belum," terangnya.