Menguak Penyebab Kanker Payudara pada Pria

Ilustrasi kanker.
Sumber :
  • Pixabay/PDPics

VIVA.co.id – Kanker payudara pada umumnya menyerang sebagian besar kaum perempuan. Namun, pria pun memiliki risiko terkena kanker payudara. Kasus kanker payudara yang dialami hanya ada sekitar 1 persen dari kanker payudara pada umumnya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dokter Ahli Onkologi dari Rumah Sakit Dharmais, dr. Bob Andinata, SpB(k)Onk di Gedung Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Jakarta Pusat.

"Meski hanya memiliki persentase kecil ( 1 persen) tapi pada umumnya kanker payudara pada pria lebih ganas dibandingkan dengan kanker pada perempuan," ujarnya.

Dia juga menyebut, kanker payudara yang terjadi pada laki-laki ini biasanya terjadi akibat obesitas, adanya kelainan pada buah zakar hingga pengaruh dari mengonsumsi obat hormonal.

"Dalam banyak kasus, gejala-gejala gangguan payudara pada pria bukan kanker. Mayoritas benjolan di payudara pria karena gynaecomastia atau jaringan payudara membesar," ujarnya menjelaskan.

Kanker ini pun dapat dicegah dengan mempertahankan berat badan yang ideal dan sehat melalui olahraga yang teratur dan mengonsumsi makanan yang sehat.

Untuk diketahui, ciri-ciri kanker payudara pada laki-laki itu bisa dikenali dengan adanya perubahan bentuk payudara, muncul ruam atau kemerahan dan perubahan kulit dan rasa nyeri yang hebat.

SADARI dan SADANIS

Meski kanker payudara bisa menyerang kaum pria, namun faktanya lainnya, kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang berbahaya. Hal ini diketahui, dari masuknya Kanker Payudara dalam 10 penyebab kematian terbanyak pada perempuan di Indonesia dengan angka kematian 21,5 persen per 100.000 penduduk.

"Dari Informasi dari Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2016, kanker payudara merupakan salah satu prevelansi kanker tertinggi di Indonesia yaitu, 50 per 100.000 penduduk," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Lily Sriwahyuni Sulistyowati, saat ditemui di Kantor Dirjen P2P, Jakarta Pusat, Selasa 19 September 2017.

Dari data tersebut diketahui, bahwa angka kejadian tertinggi berada pada daerah D.I. Yogyakarta dimana sebesar 24 per 100.000 penduduk. "Saat ini kami belum teliti lebih lanjut kenapanya. Apakah ini karena lifestyle-nya atau seperti apa," ujarnya.

Ia pun melanjutkan bahwa masyarakat Indonesia sudah mengetahui bahwa kanker payudara sangat berbahaya dan harus diwaspadai sejak dini. Meski demikian kanker payudara dapat dicegah dengan perilaku hidup sehat dan rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) yang dilakukan oleh setiap perempuan, serta melakukan pemeriksaan payudara klinis (Sadanis) oleh tenaga kesehatan terlatih.

"Masyarakat Indonesia itu semua tahu bahaya dari kanker. Tapi meski demikian perilaku masyarakat dalam deteksi dini kanker payudar masih sangat rendah. Tercatat 53,7 persen masyarakat tidak pernah melalukan SADARI, sementara 46,3 persen pernah melakukannya. Dan sebesar 95,6 persen masyarakar tidak pernah melakukan SADANIS sementara baru 4,4 persen yang telah melakukan SADANIS.” (mus)