Nikmatnya Ingkung Sambal Suro, Makanan Tradisional di Bantul

Ingkung Sambal Suro
Sumber :
  • VIVA.co.id/Daru Waskita (Yogyakarta)

VIVA.co.id – Desa wisata Mangunan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta kini sedang "booming" kunjungan wisata. Bahkan jumlah kunjungan wisata dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi objek wisata nomor dua setelah objek wisata di Pantai Parangtritis.

Sayang, desa wisata yang terletak berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul masih minim sarana penunjang, seperti rumah makan yang mampu menampung puluhan hingga ratusan wisatawan yang akan makan pagi, siang atau malam hari.

Kondisi ini mendorong Heni Rismiyati untuk membangun rumah makan Mangunan Baru yang menyediakan menu khas "Ingkung Sambel Suro" yang berbeda dengan menu ingkung ayam Jawa yang sudah marak di Kabupaten Bantul.

"Sengaja saya menyiapkan menu ingkung sambel suro yang berbeda dengan menu ingkung lainnya," kata Heni, Senin, 19 Desember 2016.

Menurut Heni masakan ingkung ayam Jawa menggunakan ayam betina dewasa namun ingkung sambel suro menggunakan ayam pejantan. Sedangkan untuk memasak tidak menggunakan santan kepala yang banyak mengandung kolesterol, namun hanya menggunakan air dan diberi bumbu bawang merah, bawang putih, daun salam dan garam secukupnya.

"Ayam ingkung sambel suro mirip dengan ingkung untuk tradisi kenduri yang tidak setiap hari menunya tersedia. Uniknya lagi sambal yang digunakan adalah sambal padang," ucapnya.

Agar daging cukup empuk dipilih ayam pejantan yang cukup umur (bakalan jagoan) sehingga tidak terlalu lama untuk memasaknya.

"Meski daging ayam jantan tidak segurih ayam betina, namun dengan cara masak sendiri hingga gurihnya tak kalah," katanya.

Untuk satu porsi menu ingkung sambal suro ini satu porsi Rp150 ribu hingga Rp175 ribu dan bisa disantap untuk delapan hingga 10 orang.

"Sangat cocok untuk rombongan keluarga besar dengan harga yang terjangkau," ujarnya.

Ibu dua anak ini mengaku rumah makan yang dibangunnya bisa menampung 100 orang untuk berkuliner ingkung ayam sambal suro. Selain itu, wisatawan juga bisa memesan menu untuk diantar ke lokasi di sekitar desa Mangunan.

Purwanto pengelola desa wisata Hutan Pinus mengaku minimnya rumah makan tidak sebanding dengan jumlah wisatawan yang berkunjung ke hutan pinus hingga kebun buah Mangunan.

"Banyak wisatawan tanya restoran terdekat untuk makan, namun saya jawab tidak ada dan harus ke Kota Bantul," ucapnya.

Ipoeng panggilan akrab Purwanto menyatakan minimal dibutuhkan lebih dari 10 rumah makan yang mampu menampung di atas 50 wisatawan, namun hingga saat ini baru ada dua rumah makan yang mampu menampung puluhan wisatawan.

"Rumah makan Mangunan Baru cukup strategis karena terletak antara Hutan Pinus dan Kebun Buah Mangunan," ujarnya.