Sensasi Sarapan Ketan Durian di Bukit Mandeh Sumbar

Ketan durian di Bukit Nona, Sumatera Barat.
Sumber :
  • VIVA/Jeffry Yanto Sudibyo

VIVA – Kawasan Wisata Mandeh yang berada di Kecamatan Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat biasa menjadi tempat berkumpul warga sekitar pada sore hari. Sebab, di kawasan tersebut Anda bisa melihat gugusan pulau dengan air laut berwarna biru dari Puncak Mandeh, dan lokasi itu biasa disebut warga sebagai Bukit Nona.

Nah, kawasan Mandeh yang berada di perbatasan Kota Padang ini juga punya kuliner unik. Kuliner ini terdiri dari buah durian lezat. Tapi warga lokal tidak menyantap durian secara langsung, melainkan dinikmati bersama ketan hitam yang ditaburi kelapa parut.

Idra, salah satu warga lokal yang bekerja sebagai penjual durian mengaku, cara penyajian ketan durian di sana dan di Jakarta memang berbeda, karena memakai ketan putih dan duriannya dimasak dengan santan juga gula merah. Kata dia, di Padang, makanan itu disebut orang nasi tuwai karena ada kuahnya.

Sedangkan ketan durian di Padang menggunakan ketan hitam tanpa kuah. Duriannya juga tidak dimasak terlebih dahulu

"Ketan durian di Padang ya seperti ini. Jadi ketan hitam kering yang sudah matang tanpa kuah, makannya pakai durian langsung dari buahnya. Memang dari dulu di Sumatera Barat begini," ujarnya kepada VIVA di Mandeh, Sumatera Barat baru-baru ini.

Ia juga mengatakan bahwa semua kedai atau warung di sana menjual ketan durian. Biasanya, makanan ini disantap sebagai menu sarapan. Bahkan, tak sedikit orang yang menikmatinya dengan tambahan gorengan, seperti pisang dan bakwan.

"Kalau enggak musim (durian), harga seporsi tiga biji durian pakai ketan hitam itu Rp10 ribu. Kalau musim bisa murah. Karena untuk sekarang sebenarnya belum musim, kami jual biasa buahnya saja Rp20 ribu ukuran sedang," ucapnya.