Kecanduan Pornografi Jadi Sebab Tingginya Angka Perkawinan Anak

Ilustrasi menonton video porno.
Sumber :
  • Pixabay.com/Geralt

VIVA – Angka perkawinan anak di Indonesia masih menjadi salah satu yang tertinggi di Asia. Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016-2017 mencatat Indonesia merupakan negara dengan angka perkawinan anak tertinggi di kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Tingginya angka perkawinan ini ditengarai disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari tingkat pendidikan, ekonomi, norma, agama hingga adat istiadat di suatu daerah. Baru-baru ini, Plt Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI, dr Eni Gustina, bahkan menyebut bahwa pornografi juga menjadi faktor penyumbang tingginya perkawinan anak.

"Dalam survei saya di Jakarta Selatan dan di Pandeglang pada anak kelas 1 dan 2 SMP, kemudian kelas 1 dan 2 SMA, dengan respondennya 1.411 orang dari situ 97 persen sudah akses pornografi," kata Eni saat ditemui di kawasan Tugu Tani, Jakarta, Selasa, 12 Maret 2019.

Ia bahkan sebagian besar dari mereka mengaksesnya di rumah, lebih khusus di kamar pribadi. Barulah kemudian disusul di warung internet (warnet) dan sekolah. Eni pun menggunakan perangkat survei untuk mengukur tingkat adiksi.

"Jadi dari survei itu, ada yang sudah adiksi ringan, ada yang adiksi berat. Nah bisa dibayangkan kalau yang sudah adiksi berat, pasti ingin melakukan sesuatu kan. Pengen nonton terus, ini yang kita khawatirkan remaja-remaja kita untuk segera ingin menikah," ujar Eni.

Dia melanjutkan, kecanduan pornografi ini membuat banyak anak ingin menyalurkan hasrat seksualnya. Sehingga muncul pelarian pada pornoaksi dan kehamilan yang tidak diinginkan. Hal ini kemudian berujung pada perkawinan anak.

"Ada yang bilang kalau kecanduan pornografi lebih berbahaya dari kecanduan narkoba. Karena kalau kecanduan narkoba yang rusak hanya diri sendiri, otak sendiri yang rusak. Tapi kalau pornografi, aku mencari orang lain untuk melakukan pornoaksi," kata Eni.

Sebab itu, ia terus mengingatkan pentingnya orangtua untuk mengawasi aktivitas seksual anak. Dengan demikian, hal itu bisa turut menekan angka perkawinan anak terjadi di Indonesia. (rna)