Selandia Baru, Daratan Terakhir di Bumi yang Dihuni Manusia

Auckland War Memorial Museum.
Sumber :
  • aucklandmuseum.com

VIVA – Mengenal dan mengetahui budaya serta tradisi masyarakat yang benar-benar baru, menjadi salah satu keuntungan yang bisa Anda dapat saat berwisata ke luar negeri. Itu pula yang VIVA lakukan saat berkunjung ke Auckland, Selandia Baru beberapa waktu lalu, dalam rangka memenuhi undangan dari Tourism New Zealand (TNZ).

Kala itu, kami diajak mengunjungi Auckland War Memorial Museum atau Auckland Museum (Tamaki Paenga Hira), museum super besar yang bangunannya sangat indah. Museum ini adalah salah satu museum dan war memorials paling penting di Selandia Baru. Sedangkan bangunannya sendiri adalah salah satu bangunan paling ikonik di Kota Auckland, yang dibangun dengan gaya neo-klasik.

Berlokasi di pusat kota Auckland, museum tersebut menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah dan awal mula terbentuknya Selandia Baru. Koleksi-koleksi yang ada di dalamnya termasuk yang berkaitan dengan Maori, suku asli Selandia Baru, artefak-artefak Pasifik, 1,5 juta spesimen sejarah alami dan eksibisi permanen tentang Perang Dunia ke-1 dan ke-2.

Menariknya lagi, bangunan Auckland Museum juga berdiri di atas sisa-sisa erupsi gunung berapi yang kawasannya kini dinamakan Auckland Domain, sebuah taman yang luas sekali, berada di dekat dengan Auckland CBD.

Berkunjung ke sini akan memberikan Anda pengetahuan dan wawasan baru tentang Negeri Kiwi yang selama ini mungkin tak pernah Anda ketahui. Seperti tentang bagaimana orang-orang Maori bisa sampai ke Selandia Baru, bagaimana Selandia Baru menjadi daratan terakhir di bumi yang dihuni manusia hingga mengungkap misteri asal muasal orang-orang suku Maori itu sendiri.

Kami juga akhirnya tahu mengapa Selandia Baru juga disebut Aotearoa. Ternyata itu adalah nama Selandia Baru dalam bahasa Maori.

"Aotearoa berarti land of the long white cloud (tanah yang mirip barisan awan putih). Itu karena suku Maori pertama yang berlayar ke Selandia Baru melihat pulau ini dari jauh seperti barisan awan yang cantik," ujarnya.

Tentu saja koleksi terkait budaya dan tradisi suku Maori yang sudah ada sejak zaman batu juga ada di sini, seperti Te Toki a Tapiri, yakni perahu kano dari kayu yang dipakai untuk berperang dan berlayar ke Selandia Baru, rumah adat asli suku Maori yang dibangun pada 1878 di Thames dan pakaian adat mereka yang terbuat dari buah.

Ada pula 1,2 juta koleksi fotografi dan 1,5 juta spesimen sejarah alami dari bidang botani, entomologi, geologi, vertebrata darat dan biologi kelautan.

Namun, yang paling menakjubkan adalah spesies burung kuno yang pernah hidup di negara tersebut, namanya Moa. Ini adalah salah satu spesies burung yang tidak bisa terbang. Namun, burung ini bukan burung biasa, melainkan burung raksasa.

Tingginya bisa mencapai 3,7 meter dan beratnya hingga 200 kilogram. Sayang, burung tersebut diburu oleh suku Maori untuk sumber makanan hingga mereka pun akhirnya punah.

Jika Anda orang yang gemar sejarah dan budaya, dijamin datang ke museum ini akan terasa seperti mendengar dongeng yang seru. Apalagi jika Anda mendengar kisah kedatangan bangsa Eropa ke Selandia Baru, berperang dengan suku Maori dan akhirnya hidup berdampingan.