Seba Baduy, Proses Adat Berusia Ratusan Tahun

Mengintip pembuatan tenun suku Baduy
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id – Sebanyak dua ribuan Suku Baduy Dalam dan Luar akan menggelar upacara adat bernama Seba Baduy yang telah berlangsung selama ratusan tahun silam.

"Ya sakarang lagi Seba gede kang. Ya sekitar kurang lebih dua ribu orang," kata Tiwin, Suku Baduy Luar, saat dikonfirmasi melalui pesan singkatnya, Rabu 26 April 2017.

Proses adat itu akan berlangsung sejak tanggal 28-30 April 2017. Di mana pada tanggal 28-29 April 2017, Suku Baduy Luar dan Dalam akan menemui Ibu Gede, di Kabupaten Lebak, yang kini dijabat oleh Bupati Itu Octavia Jayabaya. Sedangkan pada tanggal 29-30 Aprilnya, mereka akan bertemu Abah Gede yang dipimpin Gubenur Banten.

Proses adat Urang Kanekes yang berlangsung hanya satu tahun sekali yang di mana Suku Baduy Dalam berangkat dengan berjalan kaki dan Badu Luar menggunakan kendaraan sembari membawa hasil bumi akan menarik wisatawan mancanegara dan lokal untuk berkunjung ke Banten.

"Persiapan sedang dilakukan oleh Dispar (Dinas Pariwisata), karena ini terkait dengan banyaknya kunjungan wisatawan yang ingin melihat Seba Baduy secara langsung. Target wisatawan di Seba Baduy 8.000 orang," kata Eka Prasetyawan, Kepala Bagian (Kabag) Humas Kabupaten Lebak, saat dikonfirmasi melalui pesan singkatnya, Rabu 26 April 2017.

Urang Kanekes hingga saat ini tetap kokoh mempertahankan adat dan menjaga alam. Setidaknya tercermin dalam melalui pepatah mereka, yakni ‘lojor teu meunang dipotong, pendek teu meunang disambung’ (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung), yang memiliki makna bahwa hidup harus sesuai ketetapan Tuhan dan menjaga apa yang telah diberikan oleh Tuhan.

Proses adat Seba Baru tahun 2017 ini masuk ke dalam Sejarah Gede (besar). Di mana, upacara adat ini sendiri telah berlangsung selama ratusan tahun silam. Meski belum terdapat catatan resminya, namun proses tersebut diyakini telah berlangsung sekitar tahun 1526 Masehi, saat Kerajaan Demak memperluas wilayah kekuasaannya ke Banten dan mendirikan Kesultanan Banten.

Upacara adat Seba digelar setelah Urang Kanekes melaksanakan Puasa Kawalu selama tiga bulan dan musim panen tiba. Selama tiga bulan itulah masyarakat luar dilarang memasuki wilayah Baduy Dalam, yakni Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana.