Pengungkap Aib Facebook
- REUTERS/Philippe Wojazer
Bannon adalah mantan kepala strategi dan penasihat utama Presiden AS Donald John Trump. Ia adalah otak di balik sejumlah keputusan kontroversi Trump. Keputusan yang dimaksud antara lain pemberlakuan larangan kedatangan warga dari sejumlah negara Islam, plus kebijakan perdagangan dengan China dan negara lain.
Bannon sering bentrok dengan para penasihat Trump terkait perdagangan, perang di Afghanistan, pajak dan imigrasi. Pemilik media Breitbart News itu akhirnya memutuskan mengundurkan diri pada pertengahan Agustus 2017.
Saling Tuduh
Lantas, siapakah yang patut dipersalahkan? Menurut CNET, kala itu, melakukan survei kepribadian masih diizinkan Facebook. Akan tetapi, aktivitas tersebut kini sudah dilarang. Teknik inilah yang dikembangkan Pusat Psikometrik Universitas Cambridge, AS, yang diketuai oleh Kogan.
Di sini akar masalahnya. Salah satu kampus ternama itu sebenarnya sudah menolak bekerjasama dengan Cambridge Analytica, firma politik yang berdiri pada 2013. Namun, tidak bagi profesor keturunan Amerika-Rusia ini. Ia bersedia kerja sama dan membangun aplikasi bernama "thisisyourdigitallife," yakni tes kepribadian untuk pengguna Facebook melalui Global Science Research.
Lembaga penelitian ini menjadi 'kendaraan' Kogan memuluskan proyeknya pada pertengahan 2014. Sejak saat itu, Kogan mengumpulkan data untuk Cambridge Analytica, hingga akhirnya kini terkuak.
Kendati demikian, Kogan menilai, selaku peneliti dan pembuat aplikasi kuis yang mengambil data pengguna Facebook, mengatakan, justru Wylie yang pertama kali mengajaknya bergabung ke Cambridge Analytica.
Lebih lanjut lagi, Kogan menyebut dia sudah diberikan kepastian oleh Wylie bahwa hal yang mereka lakukan adalah sah-sah saja. Hingga Maret 2018, tercatat jumlah pengguna Facebook di seluruh dunia mencapai 2,13 miliar, di mana 1,15 miliar adalah pengguna harian yang aktif.
Jumlah tersebut membuat media sosial ini menjadi yang terbanyak digunakan di seluruh dunia. Akan tetapi, validasi data pengguna media ini belum tentu sesuai dengan aslinya. Dalam arti, akun buzzer yang menggunakan identitas palsu juga masih marak ditemukan - berbeda dengan data perbankan atau operator seluler.
Dalam keterangannya, Facebook mengklaim ada 2-3 persen akun palsu dalam jejaring media sosial ini, dan sekitar 6-10 persen di antaranya merupakan akun duplikat. Artinya, jika dihitung, terdapat sekitar 270 juta akun yang berpotensi palsu.