Bisnis Gurih Jasa Pengiriman
- Twitter.com/@JNE_ID
Tengok saja SiCepat Ekspres. Di salah satu cabangnya di kawasan Ciherang, Tapos, Depok, perusahaan yang berdiri sejak 1 Februari 2014 itu menempati sebuah ruko yang menempel di kompleks perumahan. Meski sudah empat tahun berdiri, di kawasan ini SiCepat baru menetap setahunan. Namun setiap hari kesibukan terlihat di ruko ini.
Apalagi ketika mobil box yang mengangkut barang kiriman pelanggan mereka. Ruko kian sesak dengan barang yang menumpuk. Sedikitnya sekali sehari mobil-mobil box ini mampir di ruko tersebut. Sebagai pendatang baru, SiCepat memang bergerak cepat. Data perusahaan di tahun 2016, atau dua tahun sejak berdiri, pertumbuhannya mencapai 300 persen dan berhasil menjalin kerjasama dengan 4.600 UKM yang menjalankan bisnis online dan 10 e-Commerce besar.
Berkah Jual Beli Online
Diakui, bisnis e-commerce atau perdagangan online memang menjadi pemicu meledaknya industri jasa pengiriman barang. Pertumbuhannya di seluruh dunia terbilang ekspansional. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat perdagangan dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja selama terkoneksi dengan internet.
Tapi peningkatan jumlah transaksi perdagangan online atau e-commerce tak akan bisa terselesaikan jika barang yang diperjualbelikan tidak bisa sampai ke penerima. Maka perdagangan online berkontribusi memberi berkah pada perusahaan jasa pengiriman. Sebab, seperti yang disampaikan Mustakim, jarak antara pembeli dan penjual semakin tak terbatas, dan jarak itu berhasil dijembatani oleh jasa pengiriman.
Menurut hasil survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengenai Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia yang dirilis akhir Desember 2017, pengguna internet di Indonesia sudah melampaui 50 persen dari total penduduk.
Dari 262 juta penduduk, sekitar 143,26 juta warga atau 54,68 persen sudah mengakses internet. Sebanyak 32,9 persen di antaranya menggunakan akses internet untuk membeli barang. Dan 16,83 persen menggunakannya untuk menjual. Artinya, sudah sekitar empat juta penduduk Indonesia yang melakukan transaksi perdagangan melalui online atau e-commerce.
Besarnya jumlah penduduk Indonesia membuat pasar kue bisnis e-commerce jadi menggiurkan. "Apalagi benefit yang ditawarkan adalah sesuatu yang tak bisa ditolak. Lebih nyaman, aman, dan harganya cenderung murah," ujar Ketua Bidang Ekonomi dan Bisnis Asosiasi e-commerce Indonesia (idEA), Iganitius Untung.