Kanker Sepakbola Indonesia
- ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Bukan hanya suporter, Indonesia sebenarnya punya modal lain untuk berprestasi di kancah internasional. Yakni, dalam urusan kualitas pemain.
Sejak era kolonial pun, Indonesia punya banyak pemain hebat. Sudah banyak pelatih yang mengakuinya.
Eks pelatih Timnas, Alfred Riedl, kepada VIVA menjelaskan, Indonesia memiliki pemain yang berkualitas. Bahkan, Riedl menyebut Indonesia mampu naik level, sejajar dengan tim macam Jepang dan lainnya.
"Ya, tentu saja Indonesia bisa," kata Riedl lewat surat elektroniknya kepada VIVA.
Kualitas sebenarnya para pemain Indonesia terlihat di 2017. Sentuhan Luis Milla Aspas membuat permainan Indonesia begitu atraktif.
Permainan yang sampai menarik perhatian publik luar negeri. Ketika SEA Games 2017, tim VIVA pernah berbincang dengan beberapa pewarta Malaysia. Mereka mengaku kaget dengan perkembangan Indonesia di era Milla.
Para pewarta Malaysia merasa Indonesia bisa menjadi juara di cabang olahraga sepakbola SEA Games 2017 saat itu. Bahkan, ketika Indonesia melakoni laga semifinal melawan Malaysia, banyak dari mereka yang memprediksi tuan rumah akan kalah.
Pun dengan beberapa sopir Grab di sana. Mereka menganggap Indonesia punya permainan menghibur dan mematikan.
"Indonesia mainnya bagus. Elok dilihat, tak bosan rasanya. Pemainnya pun hebat," ujar salah satu pewarta Malaysia yang berbincang dengan tim VIVA ketika itu di tribun media Stadion Shah Alam.
Sial, Indonesia kalah dalam semifinal tersebut. Tandukan Thanabalan Nadarajah di menit-menit akhir pertandingan membuat publik Indonesia yang hadir di Shah Alam Stadium lemas.
Bergeser ke 2018, skuat asuhan Milla kembali mencuri perhatian, yakni di Asian Games. Permainan apik dengan gaya atraktif yang penuh percaya diri, membuat publik begitu kagum.
Meski pada akhirnya gagal melangkah lebih jauh, permainan skuat Indonesia telah mencuri perhatian publik. Berbagai pujian dilontarkan kepada Hansamu Yama Pranata dan kawan-kawan.
Namun, dua bulan kemudian, pujian justru berubah menjadi kekecewaan. Skuat yang hampir sama, main di Piala AFF. Hasilnya melempem, Indonesia tersingkir sejak fase grup.
Yah, beda koki. Karena, Milla tak lagi menangani Indonesia. Banyak yang merasa kegagalan Indonesia lantaran PSSI tak becus bernegosiasi dalam memperpanjang kontrak Milla.