Kanker Sepakbola Indonesia

Para pemain Timnas Indonesia usai kalah dari Thailand di ajang Piala AFF 2018
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Benar, yang dimaksud adalah mental dan sikap mantap di atas maupun luar lapangan.

"Teknik pemain tak akan keluar jika nantinya, mental mereka belum matang. Saat bermain, apa yang menentukan pertama kali? Mental, baru setelahnya teknik. Kualitas teknik bagus, tapi mental melempem, apa yang terjadi? Ya, kemampuan mereka tidak keluar," terang Supriyono.

Dalam pembinaan usia dini, menurut Metode Coerver yang dipakai di klub-klub besar Eropa, harus ada keseimbangan antara kualitas teknik, intelijensi, dan mental, dari setiap pemainnya.

Semua materi pengembangan usia dini di metode Coerver terbagi dalam sebuah piramida. Piramida tahapan yang bisa mengasah kualitas teknik, intelijensi, dan mental bertanding pemain secara bertahap. Di Indonesia, sudah ada Filanesia yang jadi kurikulum baku bagi pengembangan usia dini.

"Ada proses untuk pemain dalam mengembangkan kemampuan di olah bola, ball mastery. Lalu, mengembangkan kreasi dan improvisasi dalam permainan, latihan kecepatan, penyelesaian, hingga permainan tim. Di Eropa, bahkan dunia, materi seperti ini sudah sejak lama diterapkan. Makanya, mereka punya tim nasional tangguh karena bibitnya dibina dengan benar," ujar Supriyono.

Riedl berpendapat sama. Selama melatih Indonesia, Coach Alfred melihat pembinaan usia dini di Indonesia masih harus dikembangkan lebih lanjut. Pemilihan pelatih usia dini, juga jadi sorotan dia.

"Indonesia butuh pelatih dan manajer yang bagus. Klub juga berperan melatih pemain dalam urusan profesionalisme, gaya hidup, nutrisi, dan lainnya. Sepakbola usia dini harus lebih dikembangkan lagi," jelas Riedl.

Urusan pembinaan usia dini bukan cuma tugas PSSI Pusat. Tapi, Asprov, Askab, dan Askot, juga harus berperan. Sebab, mereka yang lebih mengerti dan bersentuhan langsung dengan sepakbola di teritorialnya.

Masyarakat umum juga punya peran dalam pengembangan usia dini, yang ujungnya adalah pembentukan tim nasional tangguh.

"Orangtua juga harus paham dengan anaknya yang mencoba berkembang lewat sepakbola. Praktik 'titipan', kita tak bisa tutup mata, masih banyak terjadi. Terutama, di SSB. Ini yang juga harus diatasi agar pengembangan sepakbola usia dini semakin baik. Artinya, peran masyarakat juga dibutuhkan," jelas Supriyono.