Dari Pedagang hingga Raja Gula

Sejumlah warga Tionghoa membersihkan patung dewa dewi di Klenteng Hok Tek Bio Salatiga, Jawa Tengah, Selasa, 29 Januari 2019.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

Namun, selain faktor kepentingan dagang, diplomasi dan eksplorasi, kondisi tidak stabilnya politik dan keamanan di wilayah China menjadi alasan makin banyaknya orang Tionghoa yang masuk ke Nusantara. Kondisi politik rezim dinasti di China pada masa-masa tersebut penuh gejolak. Ekonomi pun cukup buruk.

Kondisi politik yang kacau akibat banyaknya pemberontakan dan kehidupan ekonomi masyarakat yang tertekan membuat orang-orang berusaha mencari tempat yang lebih baik untuk memulai hidup dan berpenghidupan. Tak heran, sebagian mereka akan menjadi tenaga kerja di wilayah tujuan baik secara legal maupun ilegal.

Pendatang China menumpang kapal biasanya tiba di wilayah dengan pantai-pantai dan pelabuhan di Nusantara. Di antaranya Aceh, Barus, Jambi, Palembang, Banten, Cirebon, Semarang, Lasem, Tuban, Gresik, Surabaya, Madura, Pasuruan, Bali, Sumba, Selayar, Makassar, Buton, Flores, Timor, Buton, Banda, dan Ambon. 

Mereka kemudian menyebar ke wilayah-wilayah lainnya termasuk ke pedalaman dengan berbagai moda transportasi. “Menjadi kuli, berdagang, kerja untuk Belanda, swasta dan lainnya,” tutur dia soal pekerjaan yang biasa digunakan para imigran asal China.

Relasi Kerajaan dan Islam

Setelah era biksu Fa Hsien, pada abad ke-7 terkenal nama tokoh agama asal China bernama I Ching yang ingin belajar agama Buddha ke India. Mirip dengan pengalaman Fa Hsien, dia melewati dan transit di Jawa. 

Pada akhirnya sempat belajar bahasa Sanskerta kepada guru yang bernama Jñânabhadra. Sementara itu, pada era-era tersebut, para pedagang di China disebutkan juga sudah menjalin hubungan dengan pihak kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Tak ayal, sebagian pedagang Tionghoa juga menikah dengan keluarga kerajaan. Sebagian bahkan diberikan wewenang yang cukup tinggi, misalnya pada era Kerajaan Majapahit. Selain I Ching, abad ke-7 dikenal pula Yi Jing, biksu senior di Dinasti Tang pernah singgah tiga kali ke wilayah Sriwijaya.

Dia dicatat pernah tinggal selama belasan tahun. Berikutnya adalah biksu Hui Ning yang juga tiba di Keling, Jawa.

Lokasi temuan candi zaman Kerajaan Sriwijaya

Sementara itu, sejarah Tionghoa dan Islam di Nusantara juga menjadi catatan penting dalam relasi hubungan pendatang China dan masyarakat lokal. Pada 1407, Laksamana Cheng Ho dengan armadanya tiba di Kukang, Palembang, Sumatera Selatan.