Kopi Klasik Nan Unik
- VIVA/Purna Karyanto
VOC yang untung besar karena bisa memainkan harga kopi di pasaran dunia, dengan berbagai triknya gagal meningkatkan kesejahteraan petani. Malah, petani lokal makin melarat karena diperas habis-habisan oleh VOC.
Meski begitu, VOC tetap bertahan dan di akhir abad 18, kopi yang dipasok VOC bisa lebih murah dan dicari oleh berbagai pengepul di Eropa. Hingga akhirnya, VOC bangkrut pada 1799 dan bisnisnya langsung jatuh ke tangan Pemerintah Hindia Belanda (Jan Breman, Keuntungan Kolonial dari Tanam Paksa Kopi di Jawa: 1720-1870).
“Sebenarnya, Desa Mekarjaya punya sejarah panjang dalam urusan kopi. Ada tiga ilmuwan Belanda yang sempat mengunjungi desa kami di masa kolonial. Tuan Debel, tuan Graafe, dan tuan Heeinen. Ketiganya punya misi mengembangkan tanaman kopi, teh, dan kina, yang memang jadi komoditi saat itu,” kata Uu.
Uu sempat bingung mengapa ketiganya mau susah payah meneliti kopi di kawasan Mekarjaya. Sebab, akses jalan ke Mekarjaya terbilang sulit, bahkan terjal. “Mereka tak bisa pakai kuda, harus ditandu sampai ke atas. Membangun rumah, jatuh cinta dengan penduduk lokal, dan menikah, lalu meneliti kopi. Saya heran awalnya dengan cerita itu. Setelah mempelajari ilmu pertanian, baru saya sadar. Ternyata, memang kondisi iklim dan tanah di hutan Gunung Sangar, Desa Mekarjaya, begitu baik. Mendukung pertumbuhan tanaman kopi,” jelas Uu.
Aripin menambahkan, memang dari cerita yang beredar secara turun temurun, kawasan Desa Mekarjaya menjadi salah satu primadona dalam pertanian sejak masa kolonial hingga sekarang. Bukan cuma kopi, banyak pula tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi ditanam di sana. “Sayuran juga. Kalau tahu ubi Cilembu, ya salah satunya dapat bibit dari sini,” terang Aripin.
Ketika VOC runtuh, dan bisnis kopi dijalankan oleh Pemerintah Hindia Belanda, kondisi makin tak bersahabat bagi petani. Gubernur Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, memprakarsai pembuatan jalan Anyer-Panarukan, dan membuat distribusi kopi dari Priangan ke Batavia makin leluasa. Pembangunan jalan, diimbangi dengan perintah Pemerintah Hindia Belanda kepada penduduk lokal untuk membabat habis hutan agar ditanami kopi. Tujuannya cuma satu, agar kuantitas produksi kopi di Priangan meningkat.