WhatsApp, dari Nol ke Triliuner

Pendiri WhatsApp, Jan Koum.
Sumber :
  • REUTERS/Albert Gea


Koum mengatakan, saat WhatsApp muncul, dunia sedang tergila-gila dengan aplikasi pesan instan BlackBerry Messenger, yang hanya berjalan eksklusif pada perangkat BlackBerry. Namun, Koum tidak patah arang dan tetap optimis. Produknya tidak kalah dengan Yahoo Messenger, Google Talk, Skype, meski sama-sama berkerja lintas platform.


"WhatsApp berbeda, karena berbasis pada nomor telepon pengguna. Ini murni multi-platform," cetus Koum.

WhatsApp 2.0

Saat meluncur perdana, Koum menemukan sejumlah kendala. Aplikasi kerap macet dan sering crash. Hanya berjalan sukses pada nomor-nomor milik teman Fishman saja. Membenahi sejumlah celah pada aplikasinya itu, Koum kemudian merilis versi lanjutan: WhatsApp 2.0. Ia pun terkejut saat pengguna aktif layanan ini tiba-tiba melesat jadi 250 ribu pengguna.

Melihat denyut WhatsApp mulai menderu-deru, Koum langsung menyambangi rumah sahabatnya, Acton, yang masih menganggur dan mencari-cari ide start-up.

Keduanya pun duduk bersama di dapur Acton, dan mulai berkirim pesan dengan WhatsApp. Saat itu, tanda cek ganda (penanda pesan sudah terbaca) sudah muncul. Pada titik itu, Acton merasakan pengalaman berkirim pesan yang siap meledak di masa depan.

"Ini lebih dari sekadar MMS (multi media message). Kau telah mendapatkan karunia dari Internet," ucap Acton pada Koum.

Derap langkah WhatsApp melaju tambah cepat. Pada Oktober 2009, Acton merekrut lima orang koleganya jebolan Yahoo untuk berinvestasi dana awal di WhatsApp senilai US$250 ribu (setara Rp2,9 miliar). Sebagai imbalan, kelima kolega itu diberikan status pendiri dan pemegang saham WhatsApp.

Acton sendiri resmi bergabung pada 1 November 2009. Jika digabung, dia dan Koum menguasai 60 persen saham kepemilikan WhatsApp. Setelah semakin populer, e-mail Koum dibanjiri pujian dari para pengguna iPhone yang menyanjung aplikasi buatannya dan berterima kasih.

Melihat respons ini, Koum mulai mencari cara untuk menjungkalkan BlackBerry Messenger (BBM), yang saat itu digdaya. Dia pun mempekerjakan kolega lamanya yang tinggal di Los Angeles, Chris Peiffer, untuk membuatkan aplikasi WhatsApp versi BlackBerry.

Saat itu, Peiffer mengaku sempat skeptis dengan masa depan WhatsApp, dan mengatakan orang-orang tidak akan meninggalkan fasilitas SMS.