MEA, Harapan dan Kenyataan
- ANTARA/ Widodo S. Jusuf
Hormati Kedaulatan
Tidak hanya mengajak masyarakat siap menghadapi MEA, Jokowi juga mengingatkan mengenai masyarakat politik dan keamanan ASEAN. Upaya itu hanya bisa diwujudkan jika masing-masing negara menghormati kedaulatannya.
Selain itu, masing-masing negara memilih untuk menyelesaikan masalah dengan cara damai dan bersatu dalam menjaga otonomi strategis kawasan.
"Indonesia berkeyakinan, kemakmuran dan perdamaian di kawasan akan ditentukan oleh bagaimana kita bekerja sama dalam mengelola samudera," ujar Jokowi.
Laut, kata Jokowi, harus dapat menyatukan antarnegara di ASEAN. Bukan malah memisahkan. "Oleh sebab itu, kerja sama membangun konektivitas dan infrastrukutur maritim harus menjadi fokus kita ke depan," ungkap Presiden.
Wakil Presiden, Jusuf Kalla, berpendapat, Indonesia lebih diuntungkan di era perdagangan bebas kawasan Asia Tenggara. Meskipun, masih memiliki kelemahan di empat bidang dibandingkan negara lain.
Menurut dia, keempat bidang itu, antara lain, keuangan, listrik, infrastruktur, dan birokrasi. "Memang, di internasional, kita masih kalah di empat bidang itu. Tapi, kita punya tiga hal yang lebih baik dibandingkan negara lain, yakni konsumer, tenaga kerja, dan sumber daya alam," katanya.
Jika tiga hal ini dikelola dengan baik, dia mengatakan, daya saing Indonesia bisa meningkat dan diperhitungkan di internasional. Selain itu, dia melanjutkan, faktor fundamental ekonomi dan keamanan Indonesia lebih baik dibandingkan negara lain, seperti Filipina, Myanmar, dan Thailand, yang masih dalam keadaan konflik.
"Kondisi Indonesia lebih positif dibanding negara lain. Kita hanya perlu meningkatkan kebersamaan dan kesatuan. Adanya MEA justru memberikan hal yang positif bagi kita, karena pasar menjadi semakin besar," ujarnya.
Untuk membangun Tanah Air, menurut dia, dibutuhkan orang yang mau bekerja, pendapatan, aturan yang tegas dan bagaimana menambah nilai.
Pusat Manufaktur Dunia
Optimisme serupa juga diungkapkan Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo. Indonesia dinilai mampu meningkatkan kapasitas dan kapabilitas global industri domestik di MEA.
"Kita pun berpeluang menjadi pusat perhatian di ASEAN, terutama pusat industri manufaktur," ujar Agus di Jakarta Convention Center (JCC).
Menurut dia, di era pasar bebas itu, ASEAN merupakan salah satu perekonomian besar di Asia, bersama dengan Tiongkok.
Agus menyampaikan, dengan total penduduk ASEAN sekitar 600 juta, maka hampir setengahnya adalah penduduk Indonesia. "Perdagangan lintas batas akan semakin terakselerasi bersama dengan implementasi integrasi ekonomi," ujar mantan menteri keuangan itu.
Selain itu, urbanisasi dan kelas menengah baru akan menjadi penopang permintaan barang dan jasa yang berkualitas tinggi. Kemampuan Indonesia untuk menjadi lokasi produksi manufaktur global juga merupakan tiket untuk berperan besar di kawasan ASEAN.
"Ada keuntungan kalau Indonesia mampu menjadi pusat manufaktur, karena bisa mempercepat transisi dari negara berkembang ke negara maju dan menghindari terjadinya middle income trap (jebakan pendapatan menengah)," kata Agus.
Oleh karena itu, dia menambahkan, kuncinya adalah kecepatan Indonesia untuk membangun lingkungan pendukung bagi peningkatan daya saing nasional sebagai sentra produksi.
Senada dengan Agus, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Raja Sapta Oktohari, mengungkapkan bahwa Indonesia mempunyai keunggulan untuk dapat bersaing di pasar ekonomi ASEAN.
Menurut dia, letak geografis Indonesia yang merupakan lokasi strategis dan pertumbuhan demografi atau penduduk yang besar menjadi faktor pendukung Indonesia di pagelaran MEA.
"Meskipun masih ada kekurangannya, tapi dilihat dari sudut pandang pengusaha, faktor itu adalah peluang," ujar dia, di gedung Graha CIMB Niaga, Jakarta. "Banyak sekali peluangnya, misalnya lidi yang harganya satu perak dijual ke 250 juta penduduk, kita bisa kalkulasikan itu. Kita juga jual kuaci, bisa jadi produsen kuaci terbesar di dunia," ujarnya.
Raja mengatakan, jika ingin menguasai pasar ASEAN, kuncinya adalah menjadi penguasa pasar di negeri sendiri. "Dengan sendirinya kita mendominasi bisnis ASEAN," tuturnya.