Mimpi 100 Kilometer per Liter

Pengunjung Padati IIMS 2014
Sumber :
  • VIVAnews/Muhamad Solihin


Selain itu, sisi keamanan mobil berukuran mungil ini juga tengah mendapat sorotan, setelah badan keselamatan internasional (Global New Car Assesment Program atau NCAP) menyatakan Suzuki Swift dan Datsun Go yang diproduksi di India gagal lolos uji tabrak. Hal ini disebabkan kedua mobil itu tidak dilengkapi dengan kantung udara atau airbag, sehingga saat terjadi tabrakan dari depan, pengemudi dan penumpang yang ada di kursi depan dapat terluka parah.


Ketua Global NCAP yang juga mantan presiden Federation Internationale de I'Automobile (FIA), Max Mosley, bahkan mengatakan sudah mengirimkan surat resmi kepada prinsipal Nissan di Jepang. FIA meminta agar dihentikan sementara penjualan Datsun dan merevisi desainnya agar bisa melindungi penumpang dengan lebih baik.

Namun Nissan Motor Indonesia, produsen Datsun untuk pasar dalam negeri, mengklaim desain Datsun Go dan Go+ yang dibuat di sini sudah memenuhi standar keselamatan yang dibuat pemerintah Indonesia.

"Pengujian yang dilakukan (Global) NCAP pada Datsun Go buatan India dilakukan di Jerman, dimana standar keselamatannya jauh lebih tinggi. Kita (Indonesia) punya standar sendiri," ujar Indriani Hadiwidjaja, Head of Datsun Indonesia.

Meski demikian, Indriani tidak menampik bahwa nantinya seri Datsun terbaru akan dilengkapi dengan tambahan fitur keselamatan. "Kita masih punya margin sedikit untuk menambah fitur itu, jadi ya mungkin saja," ujarnya.

Makin Kecil, Makin Kencang
Seperti konsep mobil LCGC yang mengusung mesin berkapasitas kecil untuk menekan konsumsi bahan bakar, tren otomotif dunia di 2015 juga mengarah ke jalur yang sama. Meski harga minyak dunia cenderung menurun di penghujung 2014 ini, namun banyak produsen otomotif yang mulai mencari cara agar produk yang mereka jual dapat menggunakan lebih sedikit bahan bakar.

Meski penggunaan energi alternatif sudah mulai ditawarkan, namun ada dua faktor yang membuat konsep ini belum bisa diimplementasi banyak negara. Faktor yang pertama tentu saja berkaitan dengan biaya produksi, dimana untuk bisa menghasilkan baterai atau tangki untuk menampung hidrogen tidaklah murah.

Namun andaikan hal ini bisa diatasi, pemerintah kota atau negara tersebut masih harus menyediakan infrastruktur penunjang seperti titik pengisian listrik dan hidrogen. Tentu bukanlah perkara yang mudah ataupun murah.