Sampah Bawa Berkah
- VIVA.co.id/Mustakim
Seolah tak mau ketinggalan, warga di RT 12 Badegan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta juga melakukan hal yang sama. Guna mengelola sampah, sejumlah warga di daerah ini mendirikan Bank Sampah dengan nama Bank Sampah Gemah Ripah.
Bank yang berdiri sejak 5 Juli 2008 ini diinisasi oleh perkumpulan bapak di wilayah ini. Mereka mendaur ulang sampah gabus menjadi kerajinan seperti asbak dan burung garuda.
Kegiatan ini tak hanya dilakukan oleh para bapak, namun juga melibatkan ibu-ibu, remaja dan anak-anak dengan hasil kerajinan beragam. "Kami menggunakan sistim penabungan dengan dua tipe. Tipe individu dan induk,” ujar Juniati (22), pengelola Bank Sampah Gemah Ripah kepada VIVA.co.id, Rabu, 18 Februari 2015.
Ia menjelaskan, tipe individu adalah sampah yang disetor oleh rumah tangga. Sementara tipe induk adalah sampah yang dikirim oleh perkumpulan masyarakat.
Menurut dia, sampah cukup dibawa ke Bank Sampah kemudian petugas akan mencatat dan memberikan surat keterangan sesuai beratnya. Jika sampah sudah terjual, barulah nasabah bisa menggambil uangnya.
Juniati menambahkan, setiap tiga pekan, lebih dari satu ton sampah masuk ke bank yang ia kelola. Nasabahnya juga mencapai ratusan kepala keluarga dan kelompok masyarakat.
Mereka tak hanya berasal dari Bantul, namun juga dari Kabupaten Kulon Progo dan Sleman. Selain dijual, sebagian sampah diolah menjadi kerajinan tangan seperti tas, dompet, baju, bunga dan berbagai kerajinan tangan lain.
Hari beranjak siang. Khosyiin dan sejumlah rekannya masih asyik bergumul dengan sampah.
Sesekali terdengar derai tawa dari para pemuda tanggung ini. Bagi Khosyiin, mendaur ulang sampah bukan sekadar kewajiban yang harus ia tunaikan.
Namun juga bagian dari pembelajaran. Sebab, setelah lulus, ia berencana mengembangkan keahlian mengolah sampah yang ia dapatkan di Nurul Iman.
“Di daerah saya masih minim usaha daur ulang sampah. Di sini saya mendapat banyak pelajaran yang bisa saya kembangkan dan manfaatkan.” (ren)