SOROT 332

Hidup Bersama Sampah

Sejumlah warga mengumpulkan sampah di objek wisata Muaro Lasak
Sumber :
  • ANTARA/Iggoy el Fitra

VIVA.co.id - Jarum jam menunjuk pukul 08.00 WIB. Pagi itu, Sanusi sudah menyusuri deretan kios di Pasar Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat. Mata petugas Satpol PP itu tak henti menyorot setiap sudut pasar. Dari tepian kios hingga lorong jalanan. 

Tiba-tiba langkah Sanusi terhenti. Seorang pedagang membawa plastik bekas dengan sampah di dalamnya. Langkah kaki pedagang itu menuju sebuah kali, tak jauh dari pasar.

Sejurus kemudian, bungkusan plastik itu berpindah tempat. Tanpa rasa bersalah, pedagang itu melemparkan plastik yang dibawanya ke tumpukan sampah yang mulai menggunung di tepi kali.

"Saat lihat orang itu buang sampah di depan mata saya, ya langsung saya semprit dan samperin orang itu," kata Sanusi kepada VIVA.co.id.

Mendapat teguran dari Sanusi, dengan wajah merah merona karena malu, pedagang itu sedikit terkejut. Dia berkilah, hanya mengikuti orang lain yang terlebih dahulu membuang sampah di tempat itu.

"Saya bicara baik-baik dan memberitahu bahwa perbuatan itu salah, karena telah membuang sampah sembarangan," ujarnya.

Petugas kebersihan membersihkan eceng gondok dan sampah di Kali Mookervart
Petugas kebersihan membersihkan eceng gondok dan sampah yang menghambat aliran Kali Mookervart di Jakarta, Kamis (12/2/2015). Foto: ANTARA/Vitalis Yogi Trisna

img_title Mereka Hidup dari Gundukan Sampah


Persoalan sampah itu pula yang sempat membuat Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama berang. Pagi di awal pekan itu, Senin 9 Februari 2015, menjadi saksi mimpi buruk warga DKI. Jakarta dilanda banjir. Lima wilayah kotamadya di Jakarta tak luput dari rendaman air.

Jalan protokol, permukiman warga hingga sekolah dan pusat-pusat bisnis serta perbelanjaan tergenang. Celakanya, Istana Negara dan Balai Kota ikut terendam.

Ahok --sapaan Basuki Tjahaja Purnama-- naik pitam. Apalagi, ketika mengetahui kamera CCTV pemantauan air Sungai Ciliwung yang terpasang di Masjid Istiqlal tidak berfungsi. Dalam pikiran Ahok, yang terlintas saat itu ada upaya sabotase agar Balai Kota dan Istana Negara terendam banjir.

Tapi, tuduhan Ahok tentang upaya sabotase itu tidak terbukti. Saat dilakukan pemeriksaan guna mencari penyebab banjir di Balai Kota, petugas kebersihan menemukan pemicunya. Sampah kardus bekas. Kardus bekas ditemukan di dalam saluran pembuangan air di halaman Balai Kota.

"Mungkin ada beberapa pekerja bangunan yang bekerja di hari Sabtu dan Minggu, tidak membuang sampah kardus bekas material bangunannya dengan benar. Harusnya tidak boleh begitu," kata Denny Wahyu Haryanto, kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta.

Denny pun memerintahkan petugas Dinas Kebakaran untuk menyedot seluruh air yang merendam Balai Kota setelah kardus bekas diangkat dari dalam saluran air.



Volume Sampah
Perilaku membuang sampah di sembarang tempat tidak hanya terjadi di Pasar Serdang. Kini, sampah dapat dijumpai di seluruh sudut dan tengah kota Jakarta. Sungai dan waduk menjadi tempat sampah raksasa bagi warga yang tidak bertanggung jawab.

Bayangkan saja, dalam setiap hari, penduduk Jakarta memproduksi sampah tak kurang dari 6.000 ton hingga 7.000 ton. Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti Jakarta, Nirwono Jowa menuturkan, jika diuraikan menurut data dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta, 6.500 ton sampah per hari terdiri atas 53 persen sampah rumah tangga dan sisanya sebanyak 47 persen adalah sampah industri.

"Dari 6.500 ton, hanya 54 persen sampah yang dapat terangkut dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bantar Gebang, Bekasi. Sisanya akan menumpuk dan tersebar di sungai, saluran air, TPS (Tempat Pembuangan Sampah) RT/RW atau kelurahan," kata Nirwono.

Jumlah ini belum termasuk dengan timbunan sampah yang telah menahun di bantaran sungai dan waduk. Ditambah dengan sampah kiriman dari kota-kota penyangga yang tiba di Jakarta karena terbawa arus sungai. [Lihat juga video di].

Ironisnya, Jakarta tidak memiliki sistem pengolahan sampah. Berton-ton sampah saat ini hanya ditampung dan dikirim ke TPA Bantar Gebang di Bekasi, tanpa terlebih dahulu melalui proses pemilahan.

Kondisi ini tak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di kota-kota besar Indonesia lainnya seperti Bandung, Surabaya, dan Makassar. Namun, dari semua kota besar itu, Jakarta adalah kota terbanyak dalam hal memproduksi sampah.

Surabaya dan Bandung hanya memproduksi sampah dengan volume 1.400 ton per hari. Sementara itu, Makassar jauh lebih sedikit yakni sekitar 800 ton per hari.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut