Perempuan Agen Perdamaian
- VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
Pemicunya beragam mulai dari faktor ekonomi hingga prasangka buruk karena perbedaan suku dan keyakinan. “Stigma antartetangga dan antara pribumi dan pendatang sangat kuat,” ujar ibu dua anak ini saat VIVA.co.id berkunjung ke sekolahnya, Rabu, 1 April 2015.
Selain itu, tak sedikit warga yang masih mempersoalkan keyakinan dan agama orang lain.
Berangkat dari kondisi itu, Rohimah dan sejumlah perempuan di RW 01 bersama AMAN mendirikan Sekolah Perempuan untuk Perdamaian. Awalnya, sekolah ini hanya diikuti segelintir orang. Selain itu juga muncul resistensi dan penolakan.
“Kami sempat dituduh ikut aliran sesat,” ujar Rohimah mengenang. Materi yang diberikan pun beragam, mulai dari soal pluralisme dan keberagaman, Hak Asasi Manusia hingga resolusi konflik.
Ada juga materi terkait parenting dan kewirausahaan. ”Namun, semua materi ujung-ujungnya adalah bagaimana membuat perempuan menjadi agen perdamaian,” lanjut dia.
Hal senada disampaikan Ummi Kulsum (43). Ia mengaku sangat beruntung bisa belajar di Sekolah Perempuan.
Awalnya, ia hanya ikut-ikutan. Namun, lama kelamaan ia merasa mendapatkan banyak manfaat dari sekolah ini.
Ummi melahap semua materi yang diberikan. Hasilnya, ia tak lagi menjadi perempuan yang minder dan serba takut.
Namun, menjadi perempuan yang berani berbicara di depan orang banyak dan tak cemas untuk menyampaikan pendapat. “Dulu, saya mau ngomong aja takut. Sekarang saya berani berbicara tentang apa saja dan dengan siapa saja,” ujar ibu dua anak ini.
Ummi tak hanya terampil berbicara dan menyampaikan pendapat. Dia juga sudah berani berurusan dengan birokrasi dan tampil di depan publik.
Sesekali, ia beradu argumentasi dengan suami dan tetangganya jika ada masalah, khususnya terkait kekerasan. “Saya sering menengahi jika ada tetangga yang berantem,” ujar dia.
Selain itu, berbekal ilmu dan pengetahuan yang ia dapatkan dari Sekolah Perempuan, Ummi juga berani ‘melawan’ jika mendapat ancaman kekerasan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga (KRDT).
Koordinator Divisi Pemberdayaan Komunitas AMAN, Hanifah, mengatakan awalnya materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat seperti kesehatan reproduksi, HIV/AIDS dan yang lain.