Perempuan Agen Perdamaian

Sekolah Perempuan untuk Perdamaian
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin

Sejumlah anak diajak ibunya mengikuti kegiatan belajar mengajar di Sekolah Perempuan untuk Perdamaian. Foto: VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin

 

Namun, selanjutnya AMAN mengembangkannya sesuai dengan visi dan misi lembaga mereka bahwa Sekolah Perempuan merupakan media untuk menciptakan agen perdamaian.

“Di antaranya adalah komunikasi efektif, komunikasi tanpa kekerasan, mediasi, negosiasi, perempuan dan pengambilan keputusan, perempuan dan perdamaian. Juga materi dasar tentang gender, konflik dan perdamaian,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 1 April 2015.

“Namun, nilai damai dan toleransi diberikan pada saat awal sebelum kelas dimulai berupa training peace and tolerance,” lanjut Hanifah.

Proses belajar mengajar di sekolah ini terbilang santai. Proses pembelajaran lebih menekankan partisipatif dan berangkat dari realitas di komunitas masing-masing.

Proses belajar dimulai dengan sharing pengalaman peserta terkait dengan materi yang ingin disampaikan. “Dari cerita-cerita ibu-ibu ini kemudian fasilitator mengantarkan sesi pembelajaran, sehingga apa yang disampaikan dapat dipahami oleh peserta,” ujar salah satu fasilitator Sekolah Perempuan di Pondok Bambu ini.

Keberadaan Sekolah Perempuan ini dianggap mampu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman perempuan tentang banyak hal, khususnya terkait konflik dan perdamaian.

Mahmudah (55) tokoh masyarakat setempat mengatakan, awalnya masyarakat memang kurang merespon keberadaan sekolah ini. Namun, lama kelamaan setelah masyarakat merasakan manfaatnya, warga berduyun-duyun mengikuti sekolah ini.

Menurut dia, ada perubahan dari warga yang mengikuti sekolah ini. “Ada kemajuan dari sisi bahasa, mudah bergaul, lebih toleran dan lebih aktif di masyarakat,” ujar Mahmudah. 

“Berkat adanya sekolah ini warga yang semula nafsi-nafsi sekarang mau bekerja sama.”

Tanggapan serupa disampaikan Sudjarwo. Ketua RW 01 ini mengatakan, ia merasa terbantu dengan keberadaan Sekolah Perempuan. Menurut dia, para perempuan yang ikut sekolah ini lebih aktif dan partisipatif.

Kepedulian sosial mereka juga meningkat. “Ada perbedaan antara yang ikut sekolah dengan yang tidak,” ujar Sudjarwo.

Ia melanjutkan, meski mayoritas yang ikut Sekolah Perempuan berasal dari ekonomi menengah ke bawah, kepedulian dan partisipasi mereka lebih besar dibanding warganya yang ‘berpendidikan’.

Karena itu, kelurahan mendukung keberadaan sekolah ini. Beragam program kelurahan banyak yang dikerjakan peserta didik Sekolah Perempuan, di antaranya Bank Sampah dan kampanye pemberantasan nyamuk demam berdarah.