Yang Terbuang dan Terlupakan
- Dokumentasi Pribadi
"Istri saya marah, karena saya tak punya penghasilan," ujar mantan komisioner Komisi Informasi Pusat ini sambil tertawa.
Sejak memutuskan bergabung di Seknas, hampir tiap hari Dono ‘bekerja’ untuk Jokowi. Alumni Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah ini terus mendampingi Jokowi sejak tahap pencalonan, kampanye hingga pemungutan suara. Tak jarang, ia membantu Jokowi menyiapkan materi kampanye. Ia juga terlibat dalam salah satu Pokja Tim Transisi Jokowi-JK.
Kerja keras Dono, tim sukses dan para relawan tidak sia-sia. Komisi Pemilihan Umum RI menetapkan, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai pemenang pemilihan presiden dan wakil presiden 2014. Berdasarkan penghitungan dari 33 provinsi, Jokowi–JK mendapatkan 53,15 persen suara. Sementara, pesaing mereka, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendulang 46,85 persen suara.
Resah Tak Mendapat Jatah
Jokowi kini sudah menjadi presiden. Sejumlah orang yang menjadi tim sukses dan relawan juga sudah mendapatkan imbalan. Sebagian ada yang menjadi menteri, deputi atau komisaris di sejumlah Badan Usaha Milik Negara. Lalu bagaimana dengan Dono. "Saya belum dapat apa-apa Mas," ujarnya seraya tersenyum.
Ia mengaku bekerja di BNP2TKI karena diajak Nusron, bukan ‘pemberian’ Jokowi. Alih-alih mendapat jabatan, saat ini Dono malah dikejar-kejar orang karena Seknas masih menanggung utang. "Total utang Seknas masih sekitar Rp1,2 miliar," ujarnya.
Menurut dia, utang itu berasal dari acara simposium dan penerbitan buku 'Jalan Kemandirian Bangsa'. "Sama Gramedia masih utang Rp650 juta,” ujarnya.
Meski belum mendapatkan ‘jatah’ Dono mengaku tidak kecewa. Ia juga tak sakit hati dengan sejumlah koleganya sesama relawan yang sudah mendapatkan posisi. Ia hanya mengaku tidak ikhlas jika yang mendapatkan jabatan dan posisi bukan orang yang ikut ‘berkeringat’ memenangkan Jokowi. “Saya tak rela kalau yang dapat orang yang nggak ikut berjuang.”
Dono tidak menampik, jika saat ini banyak relawan yang resah karena belum mendapat jatah. Menurut dia, jika para relawan ini tidak dikelola dengan baik, bukan tak mungkin mereka akan berbalik melawan Jokowi.
Pendapat senada disampaikan Adam WH. Alumnus Institut Teknologi Bandung yang giat menjadi relawan ini mengatakan, tidak mungkin semua relawan akan ‘kebagian’ posisi dan jabatan. "Itu pasti akan menimbulkan kecemburuan,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Selasa, 7 April 2015.
Menurut dia, bukan tak mungkin relawan yang cemburu dan sakit hati bakal berseberangan dengan Jokowi. Menurut dia, indikasi perlawanan itu sudah muncul.
Sama seperti Dono, Adam pun harus gigit jari. Pasalnya, sampai saat ini ia tak kunjung mendapat posisi. Padahal ia sudah diminta mengirim data diri (curriculum vitae).