Siapa Mau Terima Rohingya

anak pengungsi rohingya
Sumber :
  • VIVA.co.id/Zulkarnaini Muchtar

Publik internasional mempertanyakan keberadaan Aung San Suu Kyi dalam menghadapi krisis kemanusiaan Rohingya.

Dia mengatakan isu Rohingya terkait dengan masalah kemanusiaan. Selain itu jubir NLD turut mendorong sebuah solusi agar hak kewarganegaraan Rohingya diakui oleh pemerintah. Tetapi, kalimat itu tidak keluar langsung dari mulut Suu Kyi.

Sebelumnya, Suu Kyi telah mengungkapkan kekhawatirannya, pernyataan apa pun yang dia buat hanya akan meningkatkan ketegangan antara warga Myanmar yang mayoritas pemeluk agama Buddha dengan etnis Rohingya yang bermukim di negara bagian Rakhine. Selain itu, menurut The Guardian, ada kalangan kaum nasionalis di pemerintahan yang coba menggulingkan Suu Kyi dengan menciptakan pencitraan bahwa dia mencintai kaum Muslim.

Permasalahannya, jika dia terlihat mencintai kaum Rohingya, maka hal itu sama saja bunuh diri bagi Partai NLD. Sementara, pemilihan umum parlemen akan dilakukan kurang dari enam bulan lagi.

Menurut orang di NLD yang dekat dengan Suu Kyi, dia mengaku kecewa dengan situasi yang kini terjadi. Namun, sumber itu mengatakan Suu Kyi bisa paham, akan ada penalti khusus jika dia terlihat berpihak pada kaum Muslim. Suu Kyi juga meyakini perlu masuk ke dalam pemerintahan untuk mengatasi kemarahan publik.

"Aung San Suu Kyi dan ahli strategi politiknya kini tengah melihat matematika pemilu," ujar Direktur Pusat Penelitian Myanmar dari Universitas Nasional Australia (ANU), Nicholas Farrelly.

Farrelly menambahkan, persepsi apa pun yang dimiliki NLD jika terlalu nyaman dengan negara bagian Muslim, maka dapat membahayakan jutaan suara yang potensial untuk mereka raih. "Paling tidak, itu kekhawatirannya," Farrelly menjelaskan.



Tampung Sementara

Melihat aksi saling lempar ini, organisasi migran internasional (IOM) mengaku terkejut. Melalui juru bicaranya, Jow Lowry, dia menyayangkan aksi dorong perahu itu.

Lowry mengatakan, para pengungsi justru butuh berada di daratan. Sebab, banyak laporan yang mengatakan para imigran ilegal di dalam perahu seperti itu memerlukan bantuan darurat. Banyak imigran ilegal yang menderita penyakit beri-beri, yaitu sebuah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin.

"Beri-beri akan menyebabkan bagian tubuh Anda yang tersisa hanya tulang belulang belaka. Mereka akan membutuhkan bantuan kemanusiaan secepatnya," kata Lowry.

Dia mengingatkan para imigran ilegal ini tak hanya sekadar kabur dari negara asal. Tetapi, juga menjadi korban perdagangan manusia. Tak sedikit pula yang malah dijadikan sandera oleh para penyelundup mereka.

Melihat kondisi para imigran ilegal yang kian darurat, maka atas inisiatif Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi, digelar pertemuan trilateral darurat di Putra Jaya, Malaysia pada Rabu, 20 Mei 2015. Pertemuan itu dihadiri juga Menlu Malaysia Annifah Aman dan Wakil Perdana Menteri Thailand Jenderal Tanasak Patimapragorn.

Ketiga negara tersebut, merupakan pihak yang paling terkena dampak dari adanya arus "tsunami" imigran ilegal dari Myanmar.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir melalui pesan pendek kepada VIVA.co.id, Kamis, 21 Mei 2015, menyebut salah satu poin penting kesepakatan yaitu, Malaysia dan Indonesia bersedia untuk menampung 7.000 imigran ilegal yang kini tengah terapung di laut.