Siapa Mau Terima Rohingya

anak pengungsi rohingya
Sumber :
  • VIVA.co.id/Zulkarnaini Muchtar

Indonesia telah menampung 1.346 imigran ilegal di Aceh dan Sumatera Utara.

"Hal ini dilakukan berdasarkan pertimbangan kemanusiaan. Maka, ketiga negara tersebut sepakat terus memberikan bantuan kemanusiaan bekerja sama dengan komunitas internasional," ujar Arrmanatha.

Sebelumnya, Indonesia telah menampung 1.346 imigran ilegal di Aceh dan Sumatera Utara. Angka itu belum termasuk 433 imigran lainnya yang kembali tiba di Aceh pada Rabu kemarin.

Menlu Retno menyampaikan apa yang dilakukan Pemerintah Indonesia sudah melebihi dari yang seharusnya. Sebab, dengan kesediaan menampung walau untuk sementara waktu, tetapi, sebagai negara yang tak ikut meneken Konvensi Pengungsi tahun 1951, Indonesia sudah bertindak jauh.

Sementara, PM Najib langsung memerintahkan Angkatan Laut negaranya dan pasukan penjaga perbatasan langsung menjemput ribuan imigran ilegal yang masih terapung-apung di laut.

Namun, tiga negara menggarisbawahi hanya bersedia menampung ribuan imigran ilegal sementara waktu.

"Proses penempatan kembali dan pemulangan akan diselesaikan komunitas internasional dalam kurun waktu 1 tahun. Ketiga negara juga mendorong negara lain untuk turut serta dalam upaya yang dimaksud," Arrmanatha menambahkan.

Arrmanatha menyebut Pemerintah Bangladesh siap menerima kembali pengungsi dari negaranya. Saat ini, Pemerintah Bangladesh tengah mengonfirmasi data dari UNHCR.

"Mereka juga tengah membandingkan dan siap repatriasi migran Bangladesh di Aceh," kata dia.

Sementara, di kesempatan yang berbeda, diplomat yang pernah bertugas di Jenewa dan New York itu memastikan Indonesia tak pernah mendorong balik perahu imigran ilegal.

"Kami tidak pernah mendorong balik perahu. Pada pekan lalu ada 583 imigran ilegal yang masuk ke kawasan kami. Tetapi, kami tidak pernah memasukkan mereka ke dalam perahu dan didorong ke laut dan dilepas. Yang kami lakukan adalah Indonesia menerima mereka dan ditampung," ujarnya.

Setelah itu, Indonesia mengajak beberapa badan internasional seperti IOM dan UNHCR bekerja sama menuntaskan masalah ini. Seolah menyentil negara yang mengaku peduli dengan isu ini, Arrmanatha meminta agar pihak tersebut menunjukkan kontribusi nyata dan tak sekadar banyak bicara.

"Sekarang tiga negara utama yang berpengaruh telah meminta bantuan kepada pihak-pihak yang mengaku prihatin, please come forward and not just talk," tegas dia.

Seakan menjawab seruan Indonesia, Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri tengah mempertimbangkan dua opsi bantuan yang kini sedang dipertimbangkan. Pertama, bantuan keuangan dan kedua, pemukiman kembali para pengungsi.

"Jika badan PBB, UNHCR dan IOM menunjukkan tanda perlunya dana tambahan untuk membantu pemerintah dalam membangun hal-hal seperti fasilitas penerimaan dan menjamin prosedur pemeriksaan perlindungan, maka kami akan mempertimbangkan permohonan tersebut," kata juru bicara Deplu AS, Marie Harf.

Selain itu, AS juga siap membantu memukimkan kembali para pengungsi yang paling rentan. Sejauh ini, lebih dari 1.000 pengungsi Rohingya telah dimukimkan di AS selama satu tahun.

Sikap Myanmar yang kepala batu pun perlahan mulai mencair dan berniat ikut berkontribusi dalam penyelesaian arus pengungsi Rohingya yang membanjiri kawasan Asia Tenggara. Salah satu poin pentingnya mencakup tawaran kerjasama Indonesia untuk membangun negara bagian Rakhine secara inklusif dan non-diskriminatif.

Kesepakatan itu berhasil diambil Myanmar dan Indonesia usai Menlu Retno melakukan kunjungan bilateral untuk kali pertama ke Nay Pyi Taw pada Kamis kemarin. Sejak awal, mantan Dubes RI untuk Kerajaan Belanda tersebut mengatakan tidak ingin menekan Myanmar untuk menyelesaikan isu Rohingya. Indonesia lebih memilih cara constructive engagement, yakni mengajak berdialog. (umi)