Rohingya, Setengah Mati Menahan Rindu
- VIVA.co.id/Zulfikar Husein
Bayang-bayang Kekerasan
Sepintas, Muslim Rohingya terlihat senang di pengungsian. Makanan lezat. Ada daging, ikan segar, dan bantuan lain melimpah. Mereka berkecukupan. Namun tidak dengan batinnya. Batin mereka masih menyimpan kemarahan yang cukup kuat.
Siang itu, saat para relawan membereskan peralatan layar tancap, seorang remaja perempuan terlibat perkelahian dengan adiknya. Gadis muda itu memukul adik laki-lakinya yang masih berusia 10 tahun. Ia memukul punggung, mencekik, dan membenturkan kepala adiknya ke dinding beton. Tak ada satu pun pengungsi yang peduli.
Sang adik menangis kencang. Belakangan, setelah dilerai relawan diketahui sang kakak memukul gara-gara adiknya merusak charger handphone. Sangat sepele.
Tak lama kemudian seorang ibu terlibat selisih paham dengan anaknya. Sang ibu memarahi anaknya dengan membentak. Tak mau kalah, anak kembali membentak sang ibu. Keduanya terlibat adu mulut. Perdebatan keduanya tak berhenti sampai relawan melerai dan memindahkan salah satu ke posko lain.
Menurut Lailan yang juga psikolog, sikap keras mereka berlatar belakang kampung halamannya yang penuh konflik. Mereka dibantai dan diusir dari negaranya. Lalu mereka memilih menjadi manusia perahu yang terkatung-katung di laut. "Kondisi yang membuat mereka harus hidup keras.”
Tak sedikit pengungsi yang depresi. Mereka harus menyaksikan ayah, ibu, suami, istri, dan anak-anak mereka dibantai. Tak jarang pula mereka harus melihat dengan kepala sendiri belahan jiwanya dipenggal pemilik kapal, lalu dibuang ke laut.
Hari menjelang malam. Usai buka dan tarawih para relawan pun berpamitan. Khumaira terlihat murung. Seketika wajah cerianya berubah. Tak ada lagi senyum. Raut takut terpancar dari wajah gadis kecil itu. Khumaira kesepian.
Bagi Khumaira dan anak-anak manusia perahu lain, para relawan adalah keluarga atau orang tua bagi mereka. Terutama anak-anak yang terpisah dari keluarga.
Khumaira berharap Myanmar bisa menerima dan mengakui etnis Rohingya sebagai bagian dari negaranya. Dia ingin Rakhine, kampung halamannya, aman. Tak ada lagi pembantaian. Semua pengungsi bisa kembali, dan bebas menjalankan ibadah sesuai agamanya. (umi)