Rindu Berlebaran di Sampang
- VIVA.co.id/Muhammad Zumrotul Abidin
Anak - anak yang ingin mendapatkan takjil harus antre di masjid bersama warga rusun lain. Foto: VIVA.co.id/Muhammad Zumrotul Abidin
Bergantung pada Jatah
Konflik Sunni-Syiah di Sampang, Madura, terjadi sejak 2004. Konflik ini berujung pada tindak kekerasan yang terus berulang.
Terakhir pada Minggu, 26 Agustus 2012, terjadi pelemparan batu dan pembakaran 37 rumah pengikut Syiah. Satu tewas dan belasan luka-luka dalam peristiwa itu.
Sudah dua tahun ini, sejak 20 Juni 2013, para pengungsi Syiah Sampang berada di Rusun Puspa Agro. Sebelumnya, mereka tinggal di GOR Sampang selama sembilan bulan.
Di pengungsian, sebanyak 333 dari 75 keluarga mendapatkan jatah hidup bulanan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Jumlahnya tidak banyak, Rp709 ribu per orang.
Mereka termasuk anak-anak pengungsi yang belajar atau nyantri di pesantren di Jepara Jawa Tengah, dan Bangil Pasuruan. Selain jatah hidup, mereka juga mendapat Jamkesda serta pemukiman.
Namun, dari jatah uang tunai bulanan itu, mereka merasa belum cukup untuk menebus kebahagiaan yang tercerabut selama dua tahun dari kampung halaman. Dari uang itu mereka mencoba berkreasi di luar pengungsian. Selain mencoba memutar uang, juga untuk mencari pengalaman.
“Uang ini hanya untuk makan sehari-hari. Untuk kebutuhan lain, kita harus kerja,” kata Kholis, salah seorang pengungsi.
Dari bantuan itu, sebagian para pengungsi yang muda-muda mendirikan pangkas rambut dan jualan sate. Hasilnya lumayan, ada yang mendirikan warung sate ada juga yang dagang keliling. Untuk potong rambut, sudah ada beberapa yang mendapatkan kontrakan di Sidoarjo.
Sedangkan untuk kaum tua, mereka bekerja mengupas kelapa di Pasar Puspa Agro. Pekerjaan ini juga tidak menentu, karena jika ada barang maka ada pekerjaan. Dari mengupas kelapa, mereka bisa menerima upah antara Rp30 -50 ribu.
“Kalau kupas kulit kelapa bagian luar dilakukan di pasar. Tapi, untuk kupas kulit bagian dalam, bisa dilakukan para perempuan di belakang rusun,” kata Iklil.
Iklil juga mengaku sekarang ini sudah tidak ada masalah dengan hubungan dengan para tetangga rusun yang bukan Syiah. “Kami sering saling mengundang saat menggelar acara. Mereka mengundang tahlilan, kami juga datang,” katanya.