Ludruk di Ujung Tanduk

Gedung Ludruk di Kampung Seni THR Surabaya
Sumber :
  • VIVA.co.id/Tudji Martudji

VIVA.co.id - Pria itu tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Wajahnya terlihat kuyu dengan sejumlah kerutan di dahinya. Tatapannya kosong, menerawang jauh.

Asap rokok terus mengepul dari mulutnya, dengan bibir yang menghitam. Sesekali, ia menarik napas panjang, seolah hendak menelan sejuta rasa yang menekan. Badannya yang tinggi dan langsing hanya dibungkus celana pendek dan kaus oblong yang sudah pudar warnanya.

Malam itu, Deden Irawan (35) memang terlihat gundah. Aktor sekaligus pengelola grup ludruk Irama Budaya ini mengeluhkan nasib seni ludruk yang kondisinya nyaris menemui ajal.

“Semakin hari, minat penonton semakin sedikit. Meski digratiskan, penonton tidak sebanyak dulu,” ujarnya kepada VIVA.co.id yang menyambanginya di Kampung Seni Taman Hiburan Rakyat (THR), Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 1 Juli 2015.

Deden mengatakan, ia sudah 17 tahun menggeluti ludruk. Ia merupakan anak angkat dari Sunaryo atau yang lebih dikenal Mak Sakiyah, pendiri grup ludruk Irama Budaya. Grup ludruk yang sudah berdiri sejak 1975 ini sudah kenyang manggung di mana-mana.

Grup ini sudah keliling Surabaya dan Jawa Timur untuk manggung, baik di gedung maupun di lapangan terbuka. "Irama Budaya berkeliling di Surabaya. Saat itu masih ramai. Kami pentas atau main setiap hari," ujarnya mengenang.

Irama Budaya tak hanya pentas di gedung atau lapangan terbuka. Mereka juga sering melayani pentas di rumah warga yang sedang hajatan. Irama Budaya kemudian menetap di Wonokromo dan manggung setiap hari. "Sebelumnya, sempat tiga kali pindah tempat, dan terakhir kembali menetap di Wonokromo,” ujar ayah satu anak ini.

Oleh pemerintah daerah, Irama Budaya kemudian dipindah ke Kampung Seni THR. Di sini, mereka hanya pentas sepekan sekali. Namun, setelah ayah angkatnya meninggal tiga tahun silam, Deden mengaku jarang ikut manggung. Dia lebih banyak mengurus tiket dan keperluan kru Irama Budaya.

Seniman ludruk Deden Irawan. Foto: VIVA.co.id/Tudji Martudji



Di Ujung Tanduk
Lain dulu lain sekarang. Saat ini, menjalani hidup sebagai seorang seniman ludruk sangat sulit. Minat masyarakat terhadap kesenian asli Jawa Timur ini terus menurun. Kondisi ini membuat seniman dan kru ludruk sulit mendapat penghasilan, jika hanya mengandalkan dari pementasan.

"Ya tidak cukup Mas, karcis hanya Rp5.000. Jumlah kursi 50 pun tidak penuh, sering saya tekor. Baik untuk kru atau keperluan lainnya, termasuk dekorasi," ujar Deden.

Meski demikian, Deden memilih tetap bertahan. Meski bukan orang Jawa, pria kelahiran Bogor ini mengaku tak bisa meninggalkan ludruk. Ia mencintai seni peran yang sudah ia lakoni sejak kecil ini. Guna menutupi kebutuhan anak dan istrinya, Deden kerja serabutan.

"Saya kerja serabutan, jadi kuli bangunan," ujarnya sambil tersenyum kecut.

Tak hanya Deden. Sekitar 15 kru ludruk lainnya juga melakukan hal serupa. Untuk bertahan hidup, mereka harus kerja serabutan. "Tapi, mereka senang. Meski tidak ada uangnya. Lha, wong bayaran main ludruk hanya Rp15.000 atau Rp20.000, tetap semangat. Mangan nggak mangan pokoke ngumpul (makan tidak makan, pokoknya kumpul)," ujar Deden berseloroh.

Hal itu diamini Sugeng Rogo. Pemain ludruk ini mengatakan, ia harus kerja sampingan agar bisa menyambung hidup. Berbeda dengan Deden yang menjadi kuli bangunan, Rogo memilih membuka tempat penyewaan pakaian khas Jawa, lengkap dengan aksesorinya.

"Saya buka penyewaan pakaian untuk resepsi atau lainnya," katanya kepada VIVA.co.id, Kamis, 2 Juli 2015.

Selain itu, bersama dengan sejumlah temannya, ia membuat beragam suvenir seperti kalung dan blangkon. Barang-barang itu, ia titipkan ke pedagang di luar THR.

Sutradara Ketoprak dan Wayang Orang, Widayatno, mengatakan, selain minat masyarakat yang terus menurun, regenerasi juga tidak berjalan. Menurut dia, pertunjukan yang digratiskan juga membuat penonton merasa sungkan. Dia kemudian memberi contoh, pernah ada sekeluarga dengan mengendarai mobil masuk ke Kampung Seni THR.

"Orang tersebut heran, pertunjukan sebagus ini kok gratis, dia mengaku sungkan untuk masuk, meski akhirnya juga menonton. Nah, ini yang harus kami pikirkan ulang," ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 2 Juli 2015.

Budayawan Henky Kusuma (53) mengakui, kondisi ludruk di Surabaya memang sangat memprihatinkan. Menurut dia, pemainnya habis, sementara regenerasi tidak jalan. “Sampai tahun 1990 ludruk masih di puncak kejayaan, tapi sekarang sudah jatuh. Kalau boleh saya katakan, sekarang ludruk di Surabaya selesai, tamat," katanya kepada VIVA.co.id, Kamis, 2 Juli 2015.

Budayawan sekaligus seniman ludruk, Henky Kusuma. Foto:
VIVA.co.id/Tudji Martudji

Dia bercerita, dulu tahun 80-an ada Ludruk Sari Warni. Ke mana pun main, penonton selalu berjubel. Selain itu, sekarang tidak ada gedung ludruk. Padahal, menurut dia, dulu sangat banyak gedung ludruk.

“Di Surabaya dulu, pada tahun 80 sampai tahun 90-an, gedung ludruk sangat banyak, menjamur. Di setiap wilayah kecamatan ada. Sekarang tidak ada. Sekarang, habis," dia menambahkan.



Minim Inovasi
Henky mengatakan, minat masyarakat terhadap ludruk merosot, karena para seniman ludruk minim inovasi. Selain itu, tak ada regenerasi. “Pemain yang ada, semakin lama semakin tua. Kalau tidak dibarengi regenerasi, habis sudah Ludruk di Surabaya.”

Kondisi itu diperparah dengan hadirnya teknologi multimedia dan televisi. Stasiun televisi makin menjamur dengan berbagai pertunjukan yang terus berkembang. Sementara itu, ludruk jalan di tempat bahkan mandek.

Menurut dia, siapa pun pemain atau sutradaranya, jika tidak ada terobosan lakon yang kontekstual, ludruk akan semakin ditinggalkan. "Masih mempertahankan lakon-lakon lama, tidak diikuti sesuai perkembangan zaman. Penonton semakin jauh, karena tidak menarik."

Keluhan serupa disampaikan Hanif Nashrullah (38). Penggemar ludruk ini mengaku sudah jarang menonton ludruk. Lakon dan pesan pementasan yang disampaikan hanya itu-itu saja, yakni seputar legenda rakyat yang sudah banyak diketahui masyarakat.

Lakon yang dibawakan selalu sama dengan adegan-adegan sebelumnya. Cerita legenda pernah masyarakat lihat, tidak ada kreasi sesuai perkembangan dan kemajuan zaman.

Selain itu, ludruk semakin merosot, karena sudah tidak ada yang mau mengurus kesenian ini. Menurut dia, dulu ludruk dipakai sebagai sarana atau alat propaganda. Jadi, isinya pesanan. Misalnya di zaman Presiden Soekarno dipakai sebagai sarana atau alat perjuangan melawan kolonial.

Di zaman Soeharto dipakai sebagai sarana menyampaikan pesan atau propaganda yang dikehendaki penguasa. “Jadi, di zaman Orde Lama dan Orde Baru, ludruk dipakai sebagai sarana tertentu untuk menyampaikan pesan. Sekarang, karena tidak ada pesanan, peran ludruk ditinggalkan, tidak ada yang mengurusi. Jadinya seperti sekarang ini nasibnya,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Jumat, 3 Juli 2015.

Ia menambahkan, ludruk dulu dipakai untuk menunjukkan status sosial seseorang. Mereka menanggap ludruk untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan. Juga untuk menebar pengaruh dan menunjukkan status sosial.

Warga dikumpulkan dengan cara diberi hiburan ludruk. Namun, sekarang kebiasaan seperti ini sudah tak ada lagi.



Pemerintah Setengah Hati
Deden mengakui, pemerintah sudah banyak membantu terkait keberadaan ludruk di Surabaya. Menurut dia, pemerintah sudah menyediakan gedung pertunjukan.

Selain itu, mereka bisa mendiami kompleks THR tanpa dipungut biaya, baik untuk listrik maupun air. Selain itu, tiap kali pertunjukan, pemerintah memberikan subsidi sekitar Rp5 juta.

Namun, ada yang dirasa kurang oleh Deden, yakni soal promosi dan pembinaan. Deden menuding, salah satu yang membuat masyarakat enggan datang dan menonton ludruk karena lokasi THR tak kelihatan, tertutup bangunan Hitex Mall. Selain itu, tidak ada baliho di dekat pintu masuk THR yang menunjukkan lokasi pementasan ludruk dan beragam kesenian daerah tersebut.

“Harapan saya, selain bentuk bantuan seperti ini (gedung dan sarana lainnya), juga perlu semacam promosi agar masyarakat tergugah lagi menyaksikan ludruk, atau dengan terobosan apa lah. Agar Ludruk tidak punah atau tidak mati.”

Pintu masuk Kampung Seni THR, Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya, Jawa Timur. VIVA.co.id/Tudji Martudji

Widayatno mengeluhkan hal serupa. Kampung Seni THR yang tak terlihat, membuat masyarakat enggan masuk areal tersebut. Tidak ada promosi lainnya yang dilakukan internal Kampung Seni atau Pemkot Surabaya.

Henky berharap, pemerintah lebih serius menangani ludruk. Kesenian ini sudah menjadi ikon Surabaya. "Pemkot Surabaya selama ini masih setengah hati. Kalau pemerintah menganggap kesenian ludruk sebagai ikon Surabaya, harus ada pembinaan serius," ujarnya. Selain itu, untuk menyelamatkan ludruk di Surabaya, Hengky mengusulkan ada "Bapak Angkat".

Harapan serupa disampaikan Hanif Nashrullah. Menurut dia, bantuan subsidi Rp5 juta kepada kelompok ludruk memang sangat membantu. Namun, itu saja tidak cukup.

Menurut dia, harus ada bantuan yang lebih konkret dalam bentuk pembinaan untuk meningkatkan kreativitas dan regenerasi. “Itu yang belum saya lihat, jadi bantuan itu masih setengah hati.”

Sayangnya, Pemerintah Kota Surabaya belum merespons permohonan wawancara VIVA.co.id. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparta) Kota Surabaya, Wiwiek Widayati tak merespons pesan singkat yang dikirimkan. Upaya menghubungi lewat sambungan telepon juga tak membuahkan hasil.

Hari beranjak malam. Deden masih bertahan di pelataran THR dengan sisa kopi dan rokok di tangan. Pandangannya masih jauh menerawang. Canda dan tawa sejumlah orang yang menggerombol di gedung THR ini tak mampu mengusik lamunannya.

“Sebagai seniman, saya berharap ludruk tidak punah. Masyarakat harus tetap tahu dan mencintai. Ini warisan budaya yang tidak boleh terlepas dari budaya kita,” ujarnya. (art)