Mengungsi ke Eropa

Seorang pengungsi berdiri di dalam kereta api di Hungaria [SOROT PENGUNGSI]
Sumber :
  • REUTERS/Leonhard Foeger

Jerman kini menjadi tujuan favorit pengungsi dari Timur Tengah. Berlin sementara keluar dari aturan Dublin demi alasan kemanusiaan. FOTO: Reuters/Ognen Teofilovski


Uni Eropa Terbelah

Eksodus pengungsi dari negara Timur Tengah, khususnya Suriah ke Benua Eropa, mulai disorot publik dunia, setelah foto jasad bocah Suriah, Aylan Kurdi, menghiasi halaman depan pemberitaan dunia. Bocah berusia tiga tahun itu ditemukan tewas di tepi pantai Bodrum di Turki. Jasadnya ditemukan polisi penjaga perbatasan pantai dalam keadaan tertelungkup, mengenakan kaos warna merah dan celana pendek biru. Aylan tewas bersama kakak dan Ibunya, ketika hendak menyeberang menuju Yunani.

Isu ini kemudian menjadi topik yang dibicarakan oleh berbagai pemimpin dunia, termasuk Paus Fransiskus, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Presiden Komisi Uni Eropa (UE), Jean Claude Juncker, hingga Presiden Barack Obama. Paus bahkan menyerukan seluruh paroki di Eropa membuka diri untuk pengungsi yang umumnya beragama Islam itu.

Namun, UE rupanya tidak kompak dalam menangani isu eksodus pengungsi Timur Tengah. Di saat Jerman dan Austria bersedia membuka tangan untuk membantu pengungsi. Negara UE lainnya seperti Hungaria dan Denmark malah menutup perbatasan.

Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, mengaku sengaja memukul balik para pengungsi ke perbatasan karena mereka berpotensi menciptakan gangguan publik. Pada pekan lalu, Hungaria kebanjiran lebih dari 7.000 pengungsi dari Timur Tengah dan Asia yang ingin masuk ke Austria dan Jerman.

Hungaria dipilih pengungsi, karena area tersebut masuk ke dalam rute yang harus mereka lalui untuk sampai ke Jerman dan Austria. Alih-alih memfasilitasi, Pemerintah Hungaria malah mencegat kereta yang membawa pengungsi. Pengungsi dipaksa turun dan wajib kembali ke perbatasan dengan Kroasia.

Pengungsi menolak dipulangkan karena kadung sudah tiba di Budapest, Hungaria. Mereka lalu berunjuk rasa di depan stasiun dan menunggu agar bisa diberangkatkan ke Austria dan Muenchen, Jerman. Bahkan, ada yang sengaja nekat berjalan kaki dari Budapest menuju ke dua negara tadi.

Orban menganggap mereka bukan pengungsi. "Mereka hanya ingin hidup seperti yang kini kita miliki dan saya pahami hal itu. Tetapi, hal tersebut tidak masuk akal. Jika kita izinkan semua orang masuk, hal tersebut justru akan menghancurkan Eropa," ujar Orban seperti dikutip harian Al-Arabiya.

Namun, karena arus eksodus pengungsi yang tiba di Hungaria tak lagi bisa dibendung, maka mereka menyerah. Hungaria mengirimkan ribuan pengungsi dengan menggunakan bus menuju ke Austria dan Jerman.

Orban menegaskan, tidak akan ada lagi kebijakan serupa di masa mendatang. Pemerintah Hungaria malah berniat membangun tembok tinggi untuk menutup perbatasan.

Lain lagi cara Denmark mengurangi pengungsi. Laman Internasional Business Times melaporkan, Pemerintah Denmark sengaja memasang iklan di sebuah harian di Lebanon. Mereka memperingatkan warga Suriah akan kesulitan memperoleh suaka politik jika mencari ke Denmark.

Selain itu, mereka akan memperoleh lebih sedikit tunjangan sosial, tidak diizinkan membawa anggota keluarga selama satu tahun dan warga Suriah yang ditolak permohonan suakanya akan segera dideportasi.

"Otoritas imigrasi Denmark menginformasikan mengenai perubahan syarat terkait tinggal di Denmark. Aturan itu tengah diberlakukan oleh pemerintahan baru Denmark," tulis iklan tersebut.

Niat baik UE untuk menerima pengungsi rentan disalahgunakan oleh imigran yang sebenarnya memiliki motif ekonomi. Mereka rela melakukan apa pun agar bisa diberi suaka politik dan tinggal di Jerman. Salah satu cara mereka adalah dengan berpindah keyakinan dari Muslim menjadi Kristen. Banyak yang mengklaim dengan berpindah keyakinan maka akan meningkatkan peluang mereka untuk memperoleh suaka politik.

Dikutip dari laman Dailymail, sebagian besar pengungsi itu berasal dari Iran dan Afghanistan. Seperti yang terlihat di dalam foto yang diunggah Dailymail, beberapa pengungsi tengah dibaptis di sebuah gereja Trinity di Berlin. Dalam foto itu, seorang pastor bernama Gottfried Martens terlihat tengah membaptis seorang tukang kayu asal kota Shiraz, Iran, Zoonobi. Dia tiba di Jerman bersama istri dan dua anaknya lima bulan lalu.

Martens bukannya tidak menyadari motif ekonomi itu. Namun, dia meyakini lebih banyak yang datang dengan tujuan untuk dibaptis, karena merasa memperoleh pencerahan.

"Saya tahu ada beberapa, lagi dan lagi, orang-orang datang ke mari karena memiliki harapan terkait permohonan suaka mereka. Saya mengundang mereka untuk bergabung karena saya tahu siapa pun yang datang kemari tetap tidak akan mengalami perubahan apa pun," ujar Martens.

Dia mengatakan, berpindah agama tidak akan membantu agar permohonan suakanya diterima. Apalagi, Kanselir Angela Merkel telah menegaskan pada pekan ini, Islam merupakan bagian dari Jerman.

Salah satu contoh nyata jemaat asal Timur Tengah yang telah mengubah keyakinan dan suakanya ditolak yakni Vesa Heydari. Semula, dia berpindah keyakinan di Norwegia tahun 2009 lalu. Namun, otoritas Norwegia beranggapan, Heydari tidak akan menerima perlakuan buruk dari Pemerintah Iran, hanya karena dia beragama Kristen.

Maka, dia memutuskan pindah ke Jerman. Kini, dia tinggal menanti keputusan. Heydari mengkritik sikap pemerintah yang justru makin mempersulit upaya untuk mendapat suaka.

"Mayoritas warga Iran di sini bukan berpindah keyakinan karena yakin terhadap agama. Mereka hanya ingin tinggal di Jerman," kata Heydari.