Mengungsi ke Eropa

Seorang pengungsi berdiri di dalam kereta api di Hungaria [SOROT PENGUNGSI]
Sumber :
  • REUTERS/Leonhard Foeger

Pengungsi menolak dipulangkan karena kadung tiba di Budapest, Hungaria. Mereka lalu berunjuk rasa di depan stasiun dan menunggu agar bisa diberangkatkan ke Austria dan Muenchen, Jerman. FOTO: Reuters/Leonhard Foeger


Kritik Arab

Eksodus pengungsi Suriah yang begitu besar ke Benua Eropa turut menimbulkan tanda tanya bagi publik. Mengapa, mereka justru rela menempuh perjalanan jauh dan berbahaya ke Eropa, ketimbang mencari perlindungan ke negara tetangga seperti Arab Saudi? Terlebih Saudi merupakan saudara Muslim dan memiliki sumber daya keuangan lebih besar.

Maka, negara-negara Teluk menjadi sasaran kritik publik. Laman Business Insider melansir di Twitter, tagar #Hosting_Syria's_refugee_is_a_Gulf_duty langsung menjadi tren dan forum untuk mengekspresikan kemarahan.

Publik merasa kecewa karena justru negara Eropa seperti Jerman lebih banyak bersedia menerima pengungsi, ketimbang negara-negara Teluk.

Di Facebook, muncul sebuah fanpage yang disebut Komunitas Suriah di Denmark berbagi sebuah video yang menunjukkan para migran diizinkan masuk ke Austria dari Hungaria. Kondisi ini, memunculkan tanda tanya dari salah satu pengguna mengenai sikap negara-negara Teluk.

"Bagaimana kami kabur dari negara di area saudara kami yang notabene Muslim yang justru seharusnya ikut bertanggung jawab terhadap kami? Sementara, negara yang kerap mereka sebut kafir justru malah mau menerima kami?" pengguna media sosial itu mempertanyakan.

Mereka hanya bersedia menyumbangkan dana kemanusiaan kepada organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah. Sebagai contoh, Arab Saudi menyumbang senilai US$18,4 juta tahun ini. Sementara itu, Kuwait memberikan uang sumbangan lebih dari US$304 juta.

Salah satu warga Suriah bernama Omar Hariri yang berhasil melarikan diri dari Turki dengan menggunakan perahu karet menuju Yunani, juga menyebut negara Arab tak bersedia membantunya.

"Mereka telah membantu pemberontak, bukan pengungsi," kata Hariri yang mengungsi bersama istri dan putrinya yang berusia dua tahun.

Harian The New York Times melansir, memang negara-negara Teluk ikut menerima pengungsi Suriah. Hanya saja jumlahnya masih sedikit, jika dibandingkan pendapatan per kapita yang mereka miliki. 

Sebagai contoh, Yordania, yang memiliki pendapatan per kapita US$11 ribu, menerima 630 ribu pengungsi Suriah. Lebanon, yang memiliki pendapatan per kapita di atas Yordania, menampung 1,2 juta pengungsi Suriah.

Bandingkan dengan pendapatan per kapita negara-negara Arab yang jauh lebih tinggi seperti Qatar yang memiliki pendapatan per kapita US$143 ribu atau Arab Saudi yang menghasilkan pendapatan per kapita US$52 ribu, mereka tidak menampung para pengungsi.

Alasan lain, pengungsi Suriah meminta suaka ke negara Teluk karena sulit untuk memperoleh visa. Secara resmi, warga Suriah bisa mengajukan permohonan visa turis atau visa kerja agar bisa masuk ke negara-negara Teluk Arab itu. Tetapi, prosesnya memakan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, sudah tercipta persepsi yang luas, bahwa negara Teluk Arab memiliki batasan tak tertulis yang menyebabkan permohonan visa bagi warga Suriah sulit dikabulkan.

Kebanyakan visa yang dikabulkan pun, disebabkan, sudah ada anggota keluarga yang lebih dulu berada di negara-negara Teluk Arab, atau mereka sendiri yang sudah berada di sana lalu memutuskan memperpanjang masa tinggal.

Tetapi, kritikan itu ditepis pengajar ilmu politik dari Uni Emirat Arab, Abdulkhaleq Abdulla. Dia mengatakan, sejak tiga tahun lalu, negaranya telah menerima lebih dari 160 ribu pengungsi Suriah.

"Jika bukan karena negara-negara Teluk, jutaan orang itu akan berada dalam kondisi yang lebih menyedihkan dibandingkan saat ini. Kritik yang menyebut negara-negara Teluk tidak melakukan apa pun, tidaklah benar," tutur Abdulla seperti dilansir harian The New York Times. 

Sedangkan, pengajar ilmu poltik di Universitas di Riyadh, Arab Saudi, Khalid al-Dakhil, mengajak publik untuk kritis dan cermat mencari otak di balik krisis Suriah yang berkepanjangan.

"Mengapa hanya ada pertanyaan mengenai posisi negara Teluk, bukan mengenai siapa yang berada di balik krisis ini, siapa yang menciptakan krisis?" tanya Dakhil.

Dia menyalahkan Rusia dan Iran meski mengakui negara-negara Teluk bisa saja melakukan hal lebih banyak. Rusia dan Iran, kata Dakhil, mendukung Presiden Suriah, Bashar al-Assad. Terlepas dari itu, Saudi toh tetap menolak membuka pintu bagi pengungsi Suriah. [aba]