Menembus Asap, Mengais Receh

Sorot Asap Medan Sorot
Sumber :
  • ANTARA/Irsan Mulyadi


Tingginya intensitas kabut asap akibat kebakaran hutan tersebut jelas paling menghantam bisnis penerbangan dibandingkan moda transportasi lainnya. FOTO: ANTARA/Rony Muharrman


Kerugian ekonomi tidak terhitung

Secara garis besar, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati mengatakan, meskipun bisa dikalkulasikan, kerugian ekonomi sesungguhnya akibat musibah kebakaran hutan ini tidak terhitung.

Karena, menurut dia, kerugian bisnis secara immaterial lebih besar dibandingkan apa yang bisa dihitung secara matematika. Seperti, perjanjian bisnis yang tertunda, hingga jalur logistik yang terputus

"Yang pasti, setiap gangguan ini akan banyak yang tertunda dan orang nggak beraktivitas secara normal. Malah ada yg dibatalkan seperti penerbangan. Ini kan suatu kerugian," ujarnya saat dihubungi VIVA.co.id, Rabu, 17 September 2015.

Dari sisi ketenagakerjaan, misalnya, dia mencontohkan, perusahaan-perusahaan yang berada di sekitar kebakaran hutan tersebut juga dihantui dengan menurunnya produktivitas sumber daya manusia yang dimiliki.

Terlebih lagi para pekerja di perusahaan atau industri tersebut terancam terkena gangguan kesehatan. Kondisi tersebut jelas dapat berisiko membuat keuangan perusahaan membengkak. Kerugian mengenai hal ini tidak bisa dikalkulasi secara pasti dalam jangka pendek.

"Apalagi, di kesehatan itu kan bukan cuma kerugian berapa orang yang masuk rumah sakit hari ini. Tapi, dampak asap ini bisa muncul kemudian, penyakitnya di tahun berikutnya," ungkapnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengungkapkan, kerugian ekonomi akibat musibah kebakaran ini sudah bukan menjadi permasalahan utama dalam hal ini. Sebab, sudah tidak terhitung dan berdampak kepada semua aspek. 

"Saya nggak mau mempersolkan itu, karena ini sudah terjadi puluhan tahun," ungkapnya.

Menurut dia, yang harus diperhatikan adalah bagaimana kejadian ini tidak terus terulang di masa depan. Dan itu membutuhkan upaya dan komitmen dari semua pihak.

"Meskipun ekonomi baik atau ekonomi buruk, yang namanya bakar, ya bakar aja. Karena, membakar adalah cara termurah untuk melakukan land clearing," tuturnya. (art)