Televisi Pengajar Kekerasan

Tempat Penitipan Anak
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

Namun, tetap saja, potensi besar ada pada televisi. Orang tua yang, umpamanya, sibuk bekerja di luar rumah akan berkurang waktunya untuk anak-anak mereka.

Selama tidak bersama orang tua, anak-anak biasanya menonton televisi. Pada saat-saat seperti itu tak ada orang dewasa yang mengawasi mereka menyaksikan tontonan yang baik atau sebaliknya.

“Bisa dibilang bahwa televisi lebih berdampak ketimbang perilaku kekerasan yang dilakukan orang tuanya sendiri. Televisi ada dimana-mana, tiap rumah ada, mungkin setiap rumah di Indonesia punya televisi, atau bahkan tidak hanya satu tapi di tiap kamar ada,” kata Maria ditemui di kantornya di Jakarta pada Rabu, 23 September 2015.

Maria tak memungkiri asumsi bahwa lingkungan sekolah --selain keluarga-- turut membentuk perilaku anak. Perkelahian atau tawuran di sekolah bisa menginspirasi anak-anak melakukan hal serupa di luar. Tetapi potensi terbesar tetaplah televisi, karena anak-anak bisa tanpa batas waktu untuk menontonnya. Apalagi kalau orang tua mereka tak peduli.

Solusinya, kata Maria, bukan melarang anak menonton televisi, tetapi membatasinya dan mengarahkan pada aktivitas lain yang lebih bermanfaat. Misalnya, arahkan anak-anak berkegiatan yang lebih mendorong psikomotorik atau aktivitas fisik seperti bermain lari atau kejar-kejaran.

“Kalau anak hanya dilarang nonton TV tapi tidak diberikan alternatif hiburan yang lain, anak-anak bisa stres, bisa berontak pula. Sekarang anak-anak kritis: kenapa tak boleh nonton, lalu apa kegiatan untuk kami,” ujar Maria.

Pendapat serupa diungkapkan Ketua Komisi Nasional Perlindungan, Arist Merdeka Sirait. Dia bahkan mengaku sangat yakin bahwa televisi berperan amat besar bagi perkembangan psikologi anak. “Ya, tentu, karena saat ini tayangan televisi sebagian besar mempertontonkan nilai-nilai yang mengandung kekerasan,” katanya ditemui di kantornya di Jakarta, Kamis, 25 September 2015.

Selain itu, Arist menambahkan, ada juga faktor lain yang ikut memengaruhi perilaku anak, yakni media sosial dan perangkat telepon seluler (ponsel) pintar atau komputer tablet. Media sosial adalah sarana yang cukup efektif untuk penyebaran informasi, bahkan nyaris tak bisa dikontrol. Tayangan yang tak lulus sensor untuk televisi, umpamanya, bisa menyebar dan dapat ditonton dengan bebas di media sosial berbagi video.

Di jagat maya berlimpahan pula aplikasi permainan yang dapat diunduh secara gratis dan dimainkan lewat ponsel pintar maupun komputer tablet. Tak sedikit orang tua yang tak memerhatikan ponsel pintar anak mereka telah terpasang aplikasi permainan kekerasan, seperti perkelahian atau pertarungan bebas.

Guru dan orang tua

Pengaruh buruk televisi dan permainan kekerasan pada gadget sebetulnya dapat dikurangi atau bahkan dicegah dengan peran orang tua dalam keluarga dan guru di sekolah. Orang tua bisa mengontrol anak-anak mereka menonton televisi: melarang menyaksikan tayangan kekerasan, memberikan bimbingan manakala memirsa program yang mengandung muatan berbahaya, atau memeriksa permainan digital pada ponsel pintar atau atau komputer tablet, dan lain-lain.