'Berebut' Sampah Jakarta

Sampah
Sumber :
  • Irwandi Arsyad - VIVA.co.id

Ahok mengaku heran dengan sejumlah pihak yang mati-matian membela GTJ. “ Ngapain sih
mesti bayar dia, mesti bela-belain. Seolah-olah sampah di Bantar Gebang akan meledak akan hancur kalau enggak dikelola sama Godang Tua Jaya,” ujarnya heran.

Ia menuding, perusahaan rekanan Pemprov DKI itu tak becus mengelola sampah DKI. Ia mencontohkan kasus kebakaran di TPST Bantar Gebang beberapa waktu lalu. Menurut dia, kebakaran itu terjadi karena GTJ lalai dalam menjalankan tugasnya.

“Sampah enggak dia kasih lapis, berarti dia kelolanya nggak bener. Dia tanam pohon enggak, bikin air pengolahan enggak,” ujarnya dengan nada tinggi.

Berawal dari sejumlah kasus itu, Pemprov DKI berencana memutus kontrak dengan GTJ. Keputusan itu juga dikuatkan dengan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyoroti soal addendum dalam perjanjian.

“Sebetulnya, enggak boleh addendum, jadi kan wanprestasi, enggak mencapai target, lalu dibuat addendum sama kepala dinas. Boleh enggak surat perjanjian gubernur dengan PT, diaddendum kepala dinas,” ujarnya bertanya.

GTJ selaku pengelola TPST Bantar Gebang mengaku terganggu dengan kisruh soal sampah DKI. Sebab, gara-gara masalah itu, membuat mereka harus kerja keras selama 24 jam guna mengelola sampah DKI Jakarta yang sempat tertunda pembuangannya ke TPST Bantar Gebang.

"Intinya, PT Godang Tua Jaya saat ini hanya fokus untuk bekerja mengelola sampah dan tidak ingin berpolemik, karena hanya akan menguras energi dan pikiran kami. Sementara itu, saat ini pekerjaan kami sangat banyak untuk mengelola sampah DKI Jakarta yang beberapa hari lalu tertunda dan menumpuk di ibu kota," ujar Direktur PT Godang Tua Jaya, Douglas Manurung kepada VIVA.co.id, Kamis, 12 November 2015.

Direktur Utama PT Godang Tua Jaya, Rekson Sitorus, mengklaim, selama ini telah mematuhi perjanjian kerja sama dengan Pemprov DKI. Misalnya, soal pengomposan dan sejumlah kewajiban lain. "Sampai sekarang, GTJ masih on the track sesuai kontrak," kata Rekson, Senin, 9 November 2015.

Rekson menyesalkan pernyataan Ahok yang menuding perusahaan yang ia pimpin mengalirkan dana ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bekasi. "Itu pernyataan yang menyakitkan," ujarnya.