Agar Tak Lekang dan Dilupakan

Sejumlah seniman tampil dalam pertunjukan lenong khas Betawi
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi



Berjuang Lewat Budaya
Upaya serupa dilakukan oleh Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Wakil Ketua LKB, Yahya Andi Saputra (53), mengatakan, lembaga yang berdiri sejak 1977 tersebut terus berusaha merawat dan melestarikan Bahasa Betawi. Caranya, mereka rajin mengumpulkan dialek dan kosa kata dalam Bahasa Betawi mulai dari jampe-jampe, istilah perdagangan, perdukunan, pertanian, dan segala macam istilah, dari manusia lahir hingga dikubur.

Bahasa Betawi juga terancam punah. Salah satu penyebabnya adalah terjangan modernisasi dan globalisasi. FOTO: VIVA.co.id/Amal Nur Ngazis

“Itu yang sekarang sedang kami lakukan,” ujarnya kepada VIVA.co.id, di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta, Kamis, 3 Desember 2015.

Yahya menuturkan, upaya itu sengaja mereka lakukan karena tidak ada lembaga khusus yang merawat dan melestarikan Bahasa Betawi. “Di Jakarta mana ada balai bahasa, nggak ada cing. Alasannya, karena ente berada di tengah kota cing, dalem pusaran pusat,” ujarnya dengan dialek Betawi yang kental.

Menurut dia, seperti sejumlah bahasa etnis lain, Bahasa Betawi juga terancam punah. Salah satu penyebabnya adalah terjangan modernisasi dan globalisasi. Apalagi, masyarakat Betawi sebagian besar tinggal di Jakarta yang merupakan ibu kota negara.

Ia kemudian menunjukkan telepon genggamnya. “Ente pakai ginian nih (sambil menunjukkan telepon genggamnya) kan pakainya jempol atau like. Kalau pemerintah peduli pada beginian, pasti diganti dengan bahasa sini. Misalnya pakai pakai bahasa Jawe, Betawi jadinya 'saya suke', 'saya demen'. Harusnya begitu,” dia menambahkan.

Ia juga prihatin dengan penggunaan Bahasa Betawi yang tak sesuai pakem. Misalnya, yang digunakan dalam sinetron dan media sosial. “Bahasa Jakarta itu yang ente lihat di sinetron dan pantun yang anak-anak suka itu. Di dunia sosial itu, misalnya yang ngomong 'in', 'an', 'un' gitu ye. Terus yang Betawinya ini mengalami penurunan bahasa,” ujarnya prihatin.

Sementara itu, di sisi lain, anak-anak muda tak mengerti dengan kosa kata Bahasa Betawi yang benar. “Kalau misalnya saya ngomong tandang amat nih anak, atau ajer, mereka tanya, apaan tu bang. Itu sesama Betawi. Ngomong dengan seumuran ente itu, beda 10 tahun sudah bingung dia. Coba misalnya ambil itu di bleger, di plongkor itu mereka nggak tahu,” tuturnya menerangkan.

Menurut dia, selain tergerus arus globalisasi, salah satu penyebab menurunnya jumlah penutur Bahasa Betawi karena bahasa itu sudah jarang atau tidak digunakan di dalam rumah tangga. “Saya perhatiin di keluarga saya sendiri. Saya kan punya keponakan hampir ada 70-an, mereka sebagian besar panggil saya itu bukan encang atau encing, tapi panggil om,” dia mencontohkan.

Berangkat dari kondisi itu, lembaganya menggalakkan berbagai ajang kebudayaan guna melestarikan Bahasa Betawi. “Pertunjukan Lenong di kampung-kampung yang bisa semalem suntuk, mulai jampe-jampe, nenek, unduk-unduk, kaki unduk-unduk, daging ngungsir, itu jampe-jampe masih dibaca. Begitu juga topeng Betawi,” kata dia.

Menurut dia, di Jakarta banyak berdiri sanggar-sanggar yang berupaya merawat bahasa dan budaya Betawi. Ada grup sanggar lenong, sanggar topeng, sanggar tambrah, sanggar rebana ketriping, dan sanggar shohibul hikayat. “Banyak, ada 120-an sanggar, itu yang terdaftar di sini (LKB),” ujarnya.

Selain melalui budaya, LKB juga mendorong agar Bahasa Betawi menjadi muatan lokal yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah. Selain itu, ia meminta agar guru kesenian adalah orang Betawi. Alasannya, orang Betawi lebih tahu dengan kesenian sendiri.