Agar Tak Lekang dan Dilupakan

Sejumlah seniman tampil dalam pertunjukan lenong khas Betawi
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

“Misalnya, ada guru seni Betawi saya tanya, kalau main wakung-wakung, kripik jengkol gimana itu nyanyiinnya. Mereka nggak bisa,” ujarnya.

“Nah, kita kepengen ada kurikulum mulok (muatan lokal) yang wajib ditambah SDM yang menguasai. Kalau dia orang dari luar mau mengabdi di sini, ya kita tatar dulu.”



Gerilya di Dunia Maya   
Keprihatinan yang sama juga dirasakan Abdi Gunawan Djafar (28). Arsitek ini mengaku cemas dan khawatir dengan isu akan punahnya Bahasa Gorontalo. Ia mengaku mendengar kabar itu pada 2009. Berangkat dari keprihatinan itu, Abdi kemudian membuat akun Twitter dengan Bahasa Gorontalo.

Tak hanya itu, dia selalu berkicau dengan Bahasa Gorontalo. “Saya memanfaatkan media sosial seperti Twitter untuk menyebarkan kosa kata dan kalimat berbahasa Gorontalo serta membuat meme berbahasa Gorontalo atau flashcard berbahasa Gorontalo untuk membuat orang tertarik mempelajari Bahasa Gorontalo,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 3 Desember 2015.

Abdi juga mencari dan memasukkan sejumlah kosa kata baru dalam kamus Bahasa Gorontalo-Indonesia. Selain itu, Abdi membuat tulisan-tulisan berbahasa Gorontalo. Tulisan itu ia kirim ke media online atau wikimedia berbahasa Gorontalo.

Suasana di salah satu kampung di Gorontalo. Pegiat tertarik melestarikan Bahasa Gorontalo karena bahasa merupakan identitas.

“Dengan demikian, saya dapat memperkaya tulisan berbahasa Gorontalo di internet. Kata-kata atau tulisan berbahasa Gorontalo juga dapat dicari secara online,” dosen Universitas Negeri Gorontalo ini menambahkan.

Ia mengaku mulai aktif memasarkan Bahasa Gorontalo sejak 2010. “Saat saya mulai melakukan usaha ini, belum ada individu, kelompok atau instansi yang melakukan langkah-langkah penyelamatan Bahasa Gorontalo dari kepunahan,” ujarnya mengenang.

Abdi mengaku tertarik melestarikan Bahasa Gorontalo karena menurut dia, bahasa merupakan identitas. “Jadi, sudah sewajarnya bagi putra daerah untuk merawat bahasa daerahnya sendiri. Sayangnya, sepengetahuan saya, belum ada yang memanfaatkan media sosial untuk melestarikan bahasa daerah, untuk itu saya berinisiatif melakukan ini,” ujarnya.

Senada dengan Yahya, Abdi juga menilai, selain globalisasi, salah satu penyebab punahnya bahasa daerah adalah rendahnya pendidikan bahasa daerah di keluarga dan sekolah. Menurut dia, banyak orangtua yang menganggap pendidikan bahasa daerah tidak terlalu penting, khususnya mereka yang tinggal di kota.

Bagi mereka, menyiapkan anaknya dengan pendidikan untuk menghadapi era modern yang maju lebih penting dibanding menanamkan nilai-nilai budaya lokal. “Bahasa daerah juga jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari, di tempat kerja bahkan di dalam rumah bersama keluarga. Padahal, pembelajaran awal itu dimulai dari dalam keluarga itu sendiri,” dia menjelaskan.

Untuk itu, ia mengusulkan agar bahasa daerah dimasukkan dalam segala aspek kehidupan, seperti lingkungan, pendidikan, dan lainnya dengan lisan atau tulisan. “Misalnya kita gunakan bahasa daerah secara lisan atau tertulis di papan penunjuk jalan, tempat sampah, iklan, pemberitahuan untuk umum, media massa, media sosial, media elektronik dan lain-lain,” katanya menyarankan.

Menurut dia, dengan seringnya orang-orang melihat tulisan berbahasa daerah, mendengar orang-orang berbahasa daerah setiap hari, budaya bahasa daerah akan lestari di mana-mana.