Indonesia Bikin Robot

Sumber :
  • VIVA.co.id/Agus T Haryanto

“Bagaimana anak ADHD yang tidak bisa diam bisa menyelesaikan permainan dengan lebih tenang,” imbuhnya.

Pengembangan teknologi tersebut terjadi saat Ary mendorong Reza Darmakusuma, salah satu mahasiswanya untuk mendapatkan gelar S3. Salama proses tersebut, dia mengajak mahasiswa S1 untuk mengerjakan berbagai proyek Brain Computer Interface (BCI). Salah satunya adalah pembuatan tangan robot.

Bagi Ary, teknologi BCI bukan hal yang sulit. Meski begitu,  pengembangannya membutuhkan teori yang tidak sederhana. Menurutnya, perlu pemahaman untuk mengubah teori menjadi alat sesuai yang diinginkan. Jika proto type sudah terbangun, Ary menambahkan, tidak perlu orang yang memahami untuk membuatnya.

Ambisi Lama

Tiga kasus di atas hanyalah bagian kecil dari dunia robotika di Tanah Air. Dunia ini bukan bidang baru di Indonesia. Bicara jejak karya robotika, sejatinya Indonesia sudah memulainya sejak 30 tahun lalu, tepatnya era-80-an dan awal 90-an.

Salah satu pionir pengembangan robotika di Indonesia adalah Endra Pitowarno, yang pada awal pengembangan robot di Indonesia adalah dosen Politeknik Elektronika Negeri Surabaya-Institut Teknologi Sepuluh November (PENS-ITS). Sebagai salah satu orang yang mengenalkan dunia robotika di Indonesia, Endra mengakui, perjuangan dan perkembangan dunia robot di Indonesia mengalami masa pasang surut.

Endra memulai sepak terjangnya dengan menulis sebuah laporan riset terkait dengan robot di sebuah surat kabar di Surabaya, pada 1989. Saat itu, artikel yang ditulisnya itu seolah memantik perbincangan masyarakat pada umumnya, dan kalangan akademisi terkait dengan bidang robotika.

Pada tahun ini juga, Endra bersama empat dosen mengikuti joint research atau training di Kumamoto National College of Technology, Jepang. Dari keempatnya, Endra mengaku hanya dialah yang tertarik mempelajari robotika saat mengikuti joint research tersebut.

Endra mengatakan pertama kali menciptakan sebuah robot tikus kecil atau micro mouse pada 1989. Penemuan itu ia bawa pulang ke Tanah Air sebagai ‘oleh-oleh’ dan secara tidak langsung melambungkan namanya. Sebab, berkat robot tikus itu lah, mahasiswa PENS juga mulai tertarik melakukan penelitian dalam Tugas Akhir (TA) mereka tentang robot.