Berawal dari Kegelisahan

Roso Budiantoro dan istrinya menyiapkan nasi bungkus gratis untuk dibagikan di program Pagi yang Dahsyat (PYD). Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Sumber :
  • VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

Lama kelamaan ia berpikir, mengapa ia bersedekah dengan menggunakan barang sisa. Akhirnya, ia selalu menyisihkan makanan untuk ia sedekahkan terlebih dulu sebelum berjualan.

Awalnya, ia hanya menyedekahkan nasi dalam jumlah yang tak terlalu banyak. Namun, lambat laun ia menambah jumlah nasi bungkus yang dibagikan. Bahkan, pada akhirnya semua nasi jualannya ia sedekahkan.

“Nasi ini didistribusikan untuk yatim piatu di panti asuhan atau pondok pesantren. Selain itu, tukang becak, pengemis, pemulung, tukang parkir, dan petugas kebersihan,” ujarnya.

Setiap pagi akan ada relawan yang siap membagikan nasi bungkus itu ke panti asuhan, pesantren, dan di jalanan. Para relawan itu bekerja secara bergantian. “Ada sekitar 30 sampai 50 relawan yang terlibat,” ujar ayah dua anak ini.

Distributor herbal ini menyebut, berbagi sarapan gratis itu merupakan program Pagi yang Dahsyat (PYD). Konsep PYD adalah menitip doa melalui sedekah nasi. Program ini sengaja dilakukan di pagi hari karena dimaksudkan agar anak-anak yatim piatu dan dhuafa bisa sarapan sebelum mereka melakukan aktivitas.

Tiap hari, Budi membutuhkan dana sekitar Rp600 ribu untuk membiayai program ini. Namun, tak ada donator tetap yang mengongkosi program ini. Awalnya, Budi kerap cemas dan khawatir, takut tak ada uang untuk belanja esok hari.

“Dulu saya sering berdiri di depan ATM sekitar tiga puluh menit sampai satu jam hanya untuk menunggu transferan. Saya cek saldo, kosong. Saya cek lagi masih kosong,” ujarnya mengenang.

Namun, lambat laun Budi membuang rasa cemas itu. Meski, tak jarang ia menggunakan uang pribadi atau menjual barang-barang di rumah agar PYD tetap bisa berjalan.

“Saya ingin membuktikan janji Allah, bahwa ketika kita serahkan semua kepadaNya, maka Allah akan menggantinya,” ujarnya menegaskan.

Meski demikian, bukan berarti PYD bisa melenggang tanpa hambatan. Tantangan pertama justru datang dari Triani (30), istrinya.

Menurut dia, pada tujuh bulan pertama, istrinya tak berkenan. Alasannya, pekerjaan itu tidak ada duitnya dan sering nombok. Sementara itu, keluarganya masih kekurangan.

Triani membenarkan. Awalnya dia keberatan dengan apa yang dilakukan suaminya. Tak jarang, PYD memicu pertengkaran di rumah mereka. Sebab, keluarganya masih kekurangan, tapi sok-sokan memberi makan orang.