Berawal dari Kegelisahan

Roso Budiantoro dan istrinya menyiapkan nasi bungkus gratis untuk dibagikan di program Pagi yang Dahsyat (PYD). Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Sumber :
  • VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

Apalagi, suaminya sering menggunakan uang pribadi dan menjual barang-barang di rumah untuk membiayai PYD. “Anak saya sampai sering nggak bisa jajan karena nggak ada uang,” ujarnya mengenang.

Ia mengaku sempat putus asa dengan kondisi ekonomi keluarganya. Namun, setelah hampir setahun menjalani PYD, Triani merasa ada keajaiban.

Sedikit demi sedikiti, ekonomi keluarganya membaik. Semua yang ia inginkan juga tercapai. Tak hanya itu, keluarganya semakin hangat dan harmonis. “Hidup kami sekarang lebih baik setelah menjalani PYD.”

Hari beranjak siang. Jarum jam di dinding menunjuk angka setengah enam. Budi dan istrinya segera memasukkan nasi bungkus ke dalam sejumlah plastik kresek warna hitam berukuran besar.

Remaja yang sudah menunggu sejak pagi langsung menenteng satu kantong besar berisi puluhan nasi bungkus. Ia kemudian menghidupkan motornya dan berlalu, hilang dari pandangan.

Tak berselang lama, relawan yang lain datang. Pria ini melakukan hal yang sama, mengambil kantong kresek berisi puluhan nasi bungkus dan langsung ngacir dengan motornya. Relawan bernama Hendra Yulianto ini menembus jalanan yang mulai padat dengan kendaraan.

Seorang relawan membagikan nasi bungkus gratis ke tukang becak di program Pagi yang Dahsyat (PYD). Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

Sesekali, ia berhenti saat bertemu pemulung atau tukang becak di pinggir jalan. Hendra menyapa mereka sambil membagikan nasi bungkus, satu demi satu.

Miskun (50), salah seorang tukang becak yang mendapat pembagian nasi bungkus mengaku senang. Menurut dia, nasi bungkus itu sangat membantu. Sebab, seringkali ia tak sarapan karena belum mendapatkan muatan.

“Sarapan ini sangat membantu mas, minimal saya bisa menghemat uang sarapan,” ujarnya singkat.

Pendapat senada disampaikan Sodirin (52). Petugas kebersihan ini mengaku kerap menerima nasi bungkus yang dibagikan tiap pagi tersebut. “Alhamdulillah. Karena saya berangkat kerja pagi-pagi sekali sehingga belum sempat sarapan,” ujarnya dengan senyum lebar.

“Saya sudah tiga tahun jadi relawan PYD mas,” ujar Hendra usai membagikan nasi bungkus. Ia mengaku senang menjadi relawan. Dalam sepekan, ia bisa tiga kali membagikan nasi bungkus untuk sarapan tersebut.