Dari Rumah hingga Barang Bekas
- VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Sejauh ini, Zona Bombong belum memiliki standar rumah yang dibangun untuk warga. Biasanya, bentuk dan luas rumah tergantung kebutuhan dan jumlah orang yang tinggal di dalamnya. Meski demikian, secara umum model rumah yang dibangun sama.
Ketua Zona Bombong, Andien Fardin, mengatakan Bedah Rumah merupakan salah satu program komunitas yang ia pimpin. Menurut dia, tiap bulan Zona Bombong menargetkan membangun dua rumah untuk orang miskin.
“Tiap rumah dianggarkan Rp15 juta,” ujar dia kepada VIVA.co.id, Selasa, 15 Maret 2015. Meski menelan dana tak sedikit, komunitas ini tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Selama ini, dana diusahakan oleh jemaah secara mandiri dan sokongan sejumlah donator tidak tetap. “Kami juga tidak menyebar proposal untuk meminta bantuan,” Gus Ajir menegaskan.
Tak jarang, keuangan komunitas ini minus dan harus menanggung utang saat sedang mengerjakan pembangunan rumah. Meski demikian, selalu ada jalan, sehingga kekurangan tersebut selalu bisa ditutup. “Allah akan membantu hambaNya yang memikirkan saudaraNya.”
Selanjutnya...Sedekah Barang Bekas
Sedekah Barang Bekas
Namun, program Bedah Rumah ternyata masih menyisakan persoalan. Banyak warga yang sudah dibangunkan rumah tapi bingung karena tak ada isinya.
“Kadang mereka nggak punya tempat tidur. Bahkan ada yang tak punya peralatan memasak,” ujar Gus Ajir.
Berangkat dari kondisi itu, Zona Bombong meluncurkan program baru yang bernama Debabe atau Sedekah Barang Bekas.
Awalnya, program ini dimaksudkan untuk membantu warga yang tak memiliki apa pun saat rumahnya selesai dibangun. Namun, pada akhirnya program ini berkembang dan tak hanya menyasar warga yang mendapatkan bantuan rumah.
Pendiri Zona Bombong yang berkecimpung di program ini, Uung Ferry (31), menjelaskan, selama ini banyak barang di rumah warga yang tak terpakai. Menurut dia, daripada memenuhi gudang atau ruangan di rumah, lebih baik barang itu disedekahkan.
Zona Bombong tak membatasi barang bekas yang akan disedekahkan. “Barang apa pun kami terima, selama masih bisa dipakai atau masih bisa diperbaiki,” ujar Uung kepada VIVA.co.id, Kamis, 17 Maret 2016.