Gurita TransJakarta
- VIVA.co.id/Zahrul Darmawan
Para sopir mengakui bus TransJakarta lebih murah dan nyaman. Operasional bus tersebut disubsidi sehingga bisa murah. Sopir pun diberi gaji sehingga tak grasa-grusu demi mengejar setoran. Berbeda dengan para sopir angkutan umum lainnya yang harus memburu setoran. “Jadi buru-buru, bagi penumpang jadinya enggak nyaman,” ujar Khalid Maulana, sopir mikrolet M37, rute Pulogadung – Senen.
Ekspansi bus TransJakarta itu dinilai bisa mematikan angkutan di pinggir Jakarta. ”Di Jakarta saja sudah terbukti penumpang kami makin sepi. Bagaimana kalau di luar Jakarta,” ujar Supardi (48), sopir bus Kopaja S66 jurusan Blok M-Manggarai.
Para pengemudi angkutan berbasis aplikasi pun terkena dampaknya. Benny Silalahi, seorang pengemudi angkutan berbasis aplikasi, menyebut, kehadiran bus TransJakarta membuat penumpang yang hendak ke daerah pinggiran Jakarta lebih memilih memakai bus TransJakarta itu. “Lama-kelamaan kami jadi enggak ada peminat. Enggak ada lagi yang memesan, enggak ada yang naik,” ujarnya.
Namun ojek sepeda motor berbasis aplikasi tak terpengaruh fenomena baru ini. Ekspansi TransJakarta sampai ke kota-kota sekitarnya tidak berpengaruh pada penumpang ojek.
“Bayangin saja, dengan transportasi online, penumpang bisa dijemput langsung di depan rumah tanpa harus cari halte busway. Itu enggak bisa dilakukan busway,” ujarnya.
Marketing Director Grab Indonesia Mediko Azwar menilai, ekspansi TransJakarta ke luar Jakarta tidak akan mematikan ojek online. Sebab, layanan ride-hailing membantu menyediakan layanan transportasi yang bersifat interconnectivity. “Kami dapat membantu masyarakat menjangkau stasiun atau terminal atau halte bus untuk melanjutkan perjalanan dengan moda transportasi lain, baik itu kereta maupun bus, termasuk TransJakarta,” ujarnya.
Shafruhan Sinungan, kepala Kordinator Wilayah II A – DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda), menyatakan tindakan pengelola TransJakarta tidak lagi bersifat mengayomi tetapi sudah bersifat menindas. Dia menilai, TransJakarta bukan sekadar mengancam operator kecil melainkan membunuhnya.
“Jadi beberapa rute-rute yang existing, yang ada saat ini, akan dia masuki dengan alasan membantu masyarakat,” ujarnya. Menurutnya, Organda sangat mendukung membenahi transportasi untuk kepentingan masyarakat. “Tapi jangan seolah-olah memonopoli dan menguasai operator yang sudah ada dong,” katanya.