Berawal dari Libur Panjang
- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Selain di Arnas, Mona tak pernah menjajal pekerjaan atau profesi lain. “Jadi kalau ditanya bagaimana pengalaman kerja saya, saya tidak pernah punya pengalaman bekerja selain di Arsip Nasional,” ia menuturkan.
Meski tak sengaja dan berawal dari iseng, Mona konsisten menekuni profesinya sebagai sejarawan dan arsiparis. “Jadi sekali lagi, sebenarnya saya tidak merencanakan untuk menjadi arsiparis. Jalan yang mengarahkan saya ke sana, ya sudah, saya konsisten. Saya tidak pernah berhenti menggeluti dunia kearsipan.”
Di tengah era modernisasi dan kemajuan teknologi, Mona Lohanda konsisten menekuni profesinya sebagai sejarawan dan arsiparis. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)
Selanjutnya, Dunia Arsiparis
Dunia Arsiparis
Mona mengatakan, arsiparis ada beberapa macam. Ada arsiparis yang bertugas membaca dokumen, mencatat, dan menata. Ada yang bertugas melayani dan ada yang khusus membidangi restorasi. “Jadi kalau ada dokumen atau arsip yang rusak, mereka harus belajar teknik merestorasi arsip atau dokumen,” ujarnya.
Menurut dia, arsiparis dengan sejarah memiliki kedekatan. Sebab, kalau ingin menjadi seorang arsiparis, harus memiliki kemampuan pengetahuan sejarah. “Kalau Anda tak memiliki pengetahuan tentang sejarah, Anda baca dokumen juga tidak akan mengerti apa maksudnya,” Mona menambahkan.
Nah, sayangnya, saat ini banyak arsiparis yang tak memiliki background pendidikan sejarah. Akibatnya, saat membaca dokumen mereka tidak melihat konteksnya. Selain itu, ketika tidak belajar sejarah, pasti akan pontang-panting ketika membaca atau mengartikan sebuah dokumen.
“Membaca dokumen atau arsip itu orang harus mengerti konteksnya, konteks kapan arsip atau dokumen itu dikeluarkan,” ia menerangkan.
Pendidikan arsiparis di Indonesia hingga saat ini belum ada. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)
Mona menjelaskan, ada pendidikan khusus untuk menjadi arsiparis. Namun, di Belanda dan sejumlah negara lain. Sementara itu, di Indonesia, baru sebatas wacana dan rencana.
“Di Belanda ada universitasnya, di Inggris juga ada universitasnya, di Amerika juga ada universitasnya. Di Indonesia dulu pernah ada rencana dari program D3 dan S1. Tapi, SDM kita kurang. Infrastrukturnya juga belum mampu. Ya akhirnya cuma selesai di rencana saja,” ujar sejarawan yang menekuni paleografi ini.