Wayang Orang yang Melegenda

Salah satu agedang pagelaran wayang orang di Gedung Kesenian Jakarta.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Nurcholis Anhari Lubis

Dewi Badari Supraba membantu Arjuna mengalahkan Niwoto Kawojo dengan cara membantu para dewa mencari kelemahan raksasa ankara itu.

Suparmin Senjoyo, ketua umum Senawangi juga masih optimistis. Ia yakin, wayang orang akan bertahan. Sebab, pendukungnya masih banyak, khususnya komunitas-komunitas di Pulau Jawa, Sumatera, dan Bali. 

Selain itu, dari segi sumber daya manusia, proses regenerasinya terus berjalan. “Jumlah sanggar di Pulau Jawa itu sangat banyak, 200an lebih mungkin. Sekolah kejuruan tingkat menengah, jurusan pedalangan juga sudah cukup banyak, malahan di level universitas itu sekarang kan sudah ada ISI, ISI Surakarta, ISI Bandung, dan lain sebagainya,” dia menjelaskan. 

Kendala bagi Suparmin adalah bagaimana menarik minat agar orang mau menonton wayang. Ia menyadari semakin banyaknya jenis hiburan yang semakin modern, mengikuti gaya hidup masyarakat yang terus berubah. 

Banyak cara untuk bertahan, menurut Suparmin, salah satunya adalah bersedia adaptif dengan perubahan. Ia bahkan bersedia melakoni wayang dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, agar peminat wayang dari generasi muda terus terjaring.

Optimisme pada kelestarian wayang orang juga diaminkan oleh Kondang Sutrisno, ketua umum Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi). Ia memiliki barometer sendiri untuk rasa optimismenya. 

Menurut Kondang, tiap tahun selalu ada pertemuan ‘Dalang Bocah’, dengan tingkat partisipasi yang terus bertambah. Ia juga merujuk pada berbagai pementasan wayang orang yang masih terus ada, bahkan nyaris setiap hari. 

“Wayang orang Sriwedari masih berpentas setiap hari, dan penontonnya tetap banyak,” ujarnya.
 
Meski minim perhatian pemerintah pusat, wayang orang Sriwedari memang masih terus menjalankan aktivitasnya. Mereka tampil nyaris setiap hari, tanpa libur. 

Diperlukan perhatian khusus dari pemerintah kepada para pemain wayang orang untuk menjamin kesejahteraan mereka. (VIVA.co.id/Fajar Sodiq)

Bahkan jumlah penonton masih bisa mencapai 700 hingga 800 orang. Dukungan penuh diberikan oleh Pemerintah Kota Solo dalam bentuk perhatian pada infrastruktur dan kesejahteraan pemain. 

Sebagian pemain diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan sebagian lainnya menjadi tenaga kontrak dengan gaji setara PNS.