Mappatumbu, Menganyam Kebersamaan dengan Ketupat 

Sejumlah warga menanti saat berbuka puasa (ngabuburit) di Anjungan Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

VIVA.co.id – Matahari perlahan mulai terbenam di ufuk barat. Sinarnya yang menyengat saat siang mulai menghangat. Di sebuah gang di Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar, Sulawesi Selatan, sejumlah ibu dan anak gadisnya hingga para remaja tampak sibuk di beranda rumah.

Lembaran janur atau daun kelapa berwarna hijau menumpuk di depannya. Terhampar di sebuah meja panjang. Sebagian di antaranya mulai dijalin, membentuk ikatan yang saling merekat.

Tak butuh waktu lama, jalinan daun kelapa itu sudah menjadi bungkus ketupat. Terkumpul di sebuah wadah plastik, siap diisi beras dan selanjutnya direbus dalam air mendidih.

Warga menganyam ketupat di teras rumah di Makassar, Sulawesi Selatan. (VIVA.co.id/Yasir)

Ya, di kampung itu, para ibu hingga remaja memang punya tugas sendiri. Menganyam janur hingga menjadi ketupat matang. 

Meski tradisi ini juga biasa dilakukan di daerah lain, di Jawa misalnya, tapi ada keunikan tersendiri. Aktivitas menganyam hingga memasak menjadi ketupat dilakukan serentak sambil bercengkerama.

Tradisi yang melukiskan keharmonisan keluarga. Aktivitas menganyam itu pun dilakukan dengan cara duduk bersila.

Sudah menjadi kebiasaan, sang ibu mengajari anaknya menganyam janur menjadi ketupat setiap tahunnya, jelang Lebaran. Selain agar bisa membantu orang tua, diharapkan anak-anak juga bisa lebih terampil. 

Sementara itu, para pria, punya tugas lain. Mereka mengumpulkan kayu bakar untuk perapian. Biasanya, kayu tersebut dikumpulkan sehari sebelum digunakan sebagai perapian. Kalau bukan dibeli, warga biasa mencari sendiri.

Ketika selepas Isya, warga mulai menyalakan perapian. Sebanyak 30-40 bungkus ketupat yang sudah terisi beras dimasukkan ke dalam dandang besar. Sekira empat 
jam, warga menanti ketupat matang. 

Secara kompak, warga melakukan kebiasaan tersebut. Sepanjang gang, warga sibuk menjaga nyala api dari kayu bakar. 

Warga pun menyebut kebiasaan itu dengan "mappatumbu" atau memulai memasak. Tidak sejarah pasti, sejak kapan kebiasaan itu dimulai. Warga menyebut kebiasaan itu sudah ada sejak zaman penjajahan. 

"Jadi setiap tahun, memang sudah jadi kebiasaan warga (Antang) sini. Sama-sama mappatumbu. Sekalian bersilaturahmi dengan para tetangga," ujar Fahri Kahar, salah satu tokoh masyarakat kepada VIVA.co.id.

Selanjutnya, Tak Sekadar Tradisi

Tak Sekadar Tradisi

Kebiasaan menganyam daun kelapa menjadi ketupat bagi warga Makassar, ternyata bukan sekadar untuk menjaga tradisi. Melainkan juga bermanfaat sebagai pembelajaran bagi generasi ke depannya. 

"Misalnya anak-anak kami di sini. Bagaimana mereka bisa diajarkan kearifan lokal melalui kebiasaan ini. Menjaga tali silaturahmi di kota itu sulit. Di sini kami coba tetap pertahankan hal itu," ujar Fahri. 

Ia menjelaskan, belakangan ini, saling bercengkerama dengan tetangga sangat jarang dilakukan. Biasanya, aktivitas itu hanya dilakukan ketika ada hajatan di lingkungan sekitarnya. Padahal, menurut dia, tetangga adalah salah satu keluarga terdekat. 

Tradisi menganyam menjadi ketupat di beranda depan rumah tidak hanya akan menciptakan kebersamaan keluarga, tapi juga menjadi kesempatan untuk berinteraksi dengan para tetangga. 

"Jadi biar anak-anak bisa mencontoh juga. Kan banyak anak-anak sekarang itu, nama yang punya rumah di sebelahnya tidak kenal. Nama pak RT saja kalau ditanya, dia tidak tahu," tuturnya. 

Dengan membuat ketupat di depan rumah secara bersamaan, warga punya waktu untuk bercengkerama di sela aktivitas mereka. Fahri menuturkan, meskipun sekadar berbincang, melalui memasak hingga jadi ketupat tersebut, ada nuansa keakraban yang terjalin di antara warga. 

"Sambil tunggu ketupatnya masak, waktu menunggu itu warga bisa mempererat silaturrahmi," kata dia. 

Tradisi memasak hingga menjadi ketupat itu pun dinilai bukan sekadar ikon saat hari raya umat Islam. Bukan hanya sebagai sebuah hidangan, tapi juga penyemarak Idul Fitri. Juga sebagai ajang mempererat silaturahmi dan simbol halal bihalal.

Selanjutnya, Filosofi Ketekunan

Filosofi Ketekunan

Selain sebagai sajian untuk perayaan Lebaran, ketupat bagi warga Makassar punya makna lebih. Di balik sajian khas ketika Idul Fitri itu, terdapat makna dalam proses pembuatannya. Khususnya bagi anak-anak di Sulawesi Selatan. 

Salah satu dosen antropologi di Universitas Negeri Makassar, Prof. Andi Ima Kesuma menjelaskan, orang tua dalam suku Bugis-Makassar punya cara tersendiri dalam mendidik anak mereka. Guna meningkatkan ketekunan, anak-anak diharuskan dapat menganyam daun kelapa hingga menjadi ketupat Lebaran. 

Andi mengatakan, keturunan dalam keluarga pamali jika ketika dewasa tak mampu menganyam janur menjadi bungkus ketupat. Khususnya bagi anak perempuan. 

Tradisi yang disebutnya sebagai warisan leluhur itu sebenarnya sebagai upaya memotivasi anak agar lebih rajin membantu orangtuanya. Lebih tekun bekerja dan lebih terampil. Khususnya dalam hal kerajinan tangan. 

Pembuatan ketupat memang tak mudah. Untuk membuat ketupat yang baik, dibutuhkan keterampilan dan kecekatan tangan serta ketekunan yang kuat. Jika tidak, hasil anyaman ketupat tidak rapi, dan membuat beras dapat keluar ketika ketupat hendak direbus. 

"Nenek kita biasa bilang, kalau tidak bisa menganyam ketupat, nanti tidak bisa menikah. Penyampaiannya bermacam-macam di tiap daerah, tapi tujuannya sebenarnya sama," kata Andi Ima kepada VIVA.co.id saat ditemui, Jumat, 10 Juni 2017.

Ia menjelaskan, petuah orang tua terdahulu itu lebih kepada memotivasi anak untuk mau bekerja. Ketimbang hanya bermain saat berpuasa, anak-anak diajarkan untuk lebih produktif dan melakukan hal yang bermanfaat. 

Tradisi mewajibkan anak bisa menganyam daun kelapa menjadi ketupat juga mengajarkan bagaimana menikmati hasil jerih payah sendiri. Ketika Lebaran tiba, anak-anak bisa menikmati ketupat yang mereka buat sendiri. 

"Model orang tua dulu kala mendidik kita memang lebih kepada menakut-nakuti. Tapi makna dan tujuan dari itu besar sekali. Dari menganyam ketupat saja, kita telah diajari banyak hal," ujarnya. 

Namun, Andi tidak mengetahui pasti sejak kapan tradisi tersebut bermula. Ia mengatakan, tidak ada catatan sejarah yang pasti mengenai warisan leluhur Sulawesi Selatan tersebut. Dia berpendapat, hal tersebut lahir dari metode pendidikan tradisional di dalam keluarga. 

"Sama halnya ketika kita dilarang memotong kuku saat malam hari. Orangtua dulu bilang itu pamali. Kita percaya itu," ujarnya.

"Tapi sebenarnya, zaman dulu itu kan masih pakai obor atau lentera. Jadi berbahaya ketika memotong kuku di malam hari. Jadi kita harus lihat dari sisi lainnya," kata dia. 

Menurut Andi, petuah agar dapat menganyam ketupat itu lebih ditekankan kepada anak perempuan. Secara tidak langsung, anak perempuan diajarkan untuk lebih bersabar dan terampil secara pribadinya. 

"Kenapa anak perempuan, karena perempuan nanti yang akan jadi ibu bagi anak-anaknya. Membuat ketupat membutuhkan kesabaran dan keterampilan," tuturnya.

Tradisi ini nantinya akan menjadi modal bagi perempuan jika kelak memiliki anak untuk dididik. Membutuhkan kesabaran dalam mendidik anak dengan cara yang lebih terampil. (art)