'Jalan Darah' Membawa Berkah
- ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Atas itu, usai empat bulan membenahi birokrasi di Batavia, Daendels pun melancong ke Semarang dan kemudian akhirnya memerintahkan agar menghubungkan seluruh jalan desa yang telah ada.
"Proyek ini diserahkan pimpinan pasukan Zeni Von Lutzow," tulis Djoko.
Sejak itu, pada Mei 1808, tonggak pembuatan jalan yang kini dikenal dengan sebutan Jalan Daendels pun dicanangkan. Awal mulanya dimulai dari Buitenzorg (Bogor) ke Karangsambung melalui Cipanas, Cianjur, Bandung, Parakanmuncang, dan Sumedang. Ini ditengarai telah ada jalan sebelumnya yang menghubungkan antara Anyer dan Batavia.
Dan sebagai penanda, Daendels mengharuskan agar setiap 400 Roede Rhijnland atau setara 4,5 kilometer, harus dibangun pos penghentian atau penghubung untuk kebutuhan surat-surat pos (De Grote Postweg).
Saat itu, kata Djoko, sebanyak 1.100 orang bujangan pun diturunkan untuk pengerjaan jalan ini. Oleh Daendels, setiap pekerja diberi upah antara 1 ringgit perak per orang hingga 10 ringgit perak per orang.
Tentu apa yang dikerjakan Daendels bukan barang mudah. Megaproyek ini pun menemui kendala ketika di Sumedang. Kondisi topografis yang sulit, ditambah dengan habisnya anggaran membuat Daendels kelimpungan.
Daendels pun membuat kebijakan agar para bupati di daerah untuk menyediakan tenaga kerja dan harus menyediakan pangan mereka. Kondisi mau tak mau akhirnya membuat ribuan penduduk yang di bawah paksaan bupati terpaksa turun bekerja.
Tak cuma itu, guna memenuhi kebutuhan persiapan perang menghadapi Inggris. Daendels juga membangun benteng. Saat itu juga dilaporkan ribuan orang tewas lantaran terlalu banyak bekerja, namun tak diberi makan yang cukup.
Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005), menuliskan setidaknya ada 12 ribu orang yang kemungkinan tewas akibat pembangunan jalan Daendels. Jumlah ini pun masih diyakini lebih besar, dan karena itu juga mengapa banyak pihak yang menyebut bahwa Jalan Daendels ini sebagai masa genosida masyarakat Jawa paling kejam saat itu.
"Para pekerja paksa itu tewas lantaran kelelahan dan serangan malaria yang ganas," tulis Pramoedya.
Tak cuma itu, beberapa sumber bahkan menyebutkan jika Daendels kerap menghukum para pekerja paksa itu dengan cara menggantung kepalanya di pucuk pepohonan di kiri dan kanan ruas jalan yang dibangunnya.