'Jalan Darah' Membawa Berkah

Truk melintas di proyek pembangunan jalan Tol Pemalang-Batang Paket I di Saweka, Pemalang, Jawa Tengah
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Jalan Daendels memang penuh darah. Ribuan orang mati berkalang tanah di seribu kilometer jalan yang kini menjadi cikal bakal tonggak perkembangan sistem tata ruang dan hubungan antar kota di Pulau Jawa itu.

Perangai Daendels yang otoriter, keras, dan kejam ini lah yang kemudian menjadi senjata baginya. Para lawan politiknya pun memberi informasi buruk kepada Eropa. Daendels dituding telah membuat kerja paksa dan pembunuhan massal.

Selanjutnya, Jalan Beranakpinak

Jalan Beranak Pinak
Pada 1811 atau genap tiga tahun empat bulan Daendels di tanah Jawa, Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte memanggilnya pulang dan menggantikan tampuk kepemimpinan Hindia Timur dengan Jan Willem Jansen.

Saat itu, disebutkan bila megaproyek Jalan Daendels masih terus bergulir, meski secara prinsip jalan ini sejatinya telah rampung dikerjakan lantaran memang ada beberapa jalan yang sejatinya telah ada sebelum kehadiran Daendels.

Karena itu, mahfum kemudian jika hanya dalam rentang setahun, Daendels telah bisa membuka kebuntuan jalan di barat sampai timur pulau Jawa.

Ini ditunjukkan dengan keberhasilannya memangkas jarak tempuh antara Batavia-Surabaya menjadi tujuh hari dari sebelumnya 40 hari.

Meski kala itu, selama 40 tahun Jalan Daendels tak bisa dinikmati pribumi. Namun, suka tak suka, jalan darah yang dibangun pria Prancis ini menjadi tonggak pembangunan Pulau Jawa dan pertahanan militer sekaligus ekonomi sejak awal abad-19 hingga kini.

Di era kekinian, jalan yang dirintis Daendels ini lah yang kini populer dikenal sebagai Jalur Pantura atau Pantai Utara. Jalan ini lah yang menjadi arus nadi ekonomi, penumpang, dan barang yang menghubungkan antara Jakarta dan Surabaya.

Beratus tahun sudah jalan buatan Daendels ini kini masih bertahan. Tak terkira berapa manfaat ekonomi yang berputar di sepanjang jalan ini.

Sejumlah pengendara mobil melintasi ruas jalan tol Solo-Ngawi di Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Sejauh ini, pemerintah masih terus memanfaatkan penggunaan Jalan Daendels ini sebagai sarana transportasi penting. Jalur ini bahkan telah beranak pinak dengan jalur lain berupa tol.