Bajakan Si Pelaris
- ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Demi menjaga nama kampus tempatnya membuka lapak, SN menegaskan bahwa buku yang dijual di lapaknya semua asli. Dia tak mau ambil risiko dengan menjual produk bajakan. Umpama ada yang memesan buku bajakan, tentu tak dijual juga di lapaknya, hanya untuk si pemesan.
Dua kota yang disebut SN sebagai penyuplai buku bajakan, Yogyakarta dan Malang, sebenarnya tak jelas betul identitas kelompok maupun jaringannya. Beberapa pedagang buku di sentra buku Taman Pintar Book Store, Yogyakarta, mengelak ketika dikorek-korek seputar buku bajakan. Mereka memastikan tak menjual buku-buku bajakan. Kalau pun ada buku yang berharga jauh lebih murah, para pedagang mengklaim, belum tentu produk bajakan.
Buku-buku yang dijual di sentra buku yang lebih dikenal dengan nama Shopping Center itu semua disuplai distributor atau langsung dari penerbit. Soal harga, termasuk kualitasnya yang menentukan produk asli atau bajakan, semua ditetapkan distributor dan penerbit; para pedagang hanya menjual.
“Kalaupun itu bajakan,” menurut Sumadi, seorang penjual buku di Shopping Center pada Rabu, “distributor buku yang memalsunya, bukan kita yang sengaja menjual buku bajakan.” Produk yang disuplai langsung penerbit, dia berargumentasi, jelas mustahil barang bajakan. “Penerbit, kan, tidak mungkin membajak bukunya sendiri.”
Saut, pedagang lain yang lapaknya berdampingan dengan lapak Sumadi, mengajukan argumentasi serupa. Dia juga tak mengulak sendiri buku-buku yang dijualnya, melainkan dari agen atau distributor. Mahal atau murah buku yang dijualnya, semua bergantung harga yang ditetapkan distributor, begitu juga kalau ada potongan harga.
“Kalau pun itu bajakan, berarti distributor yang curang,” katanya. Dia melemparkan tanggung jawab kepada distributor kalau ada buku yang ternyata aspal. Alasannya, dia menegaskan, tak tahu asal-usul buku-buku yang dijualnya selain bahwa itu dari distributor.
Keterangan sedikit lebih jelas ihwal buku imitasi didapat dari pedagang buku di sentra buku Kwitang, kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat. Di kompleks lapak-lapak buku tempat salah satu adegan dalam film Ada Apa dengan Cinta? itu dapat ditemui produk-produk berharga miring. Para pedagang di sana menyebutnya produk KW, kependekan dari kwalitas, namun merujuk pada tingkatan mutu: KW1 berarti bajakan dengan kualitas nomor satu; KW2 bermakna bajakan dengan kualitas nomor dua.